Raksasa Teknologi Ditinggal, Startup Tak Terkenal Mendadak Diserbu

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Investor global mulai mengubah strategi investasi mereka dengan beralih ke saham perusahaan yang lebih murah dan berkapitalisasi kecil. Keputusan ini dilakukan setelah gejolak pasar mengguncang sejumlah aset yang sebelumnya menjadi primadona, terutama sektor teknologi dan aset spekulatif.

Perubahan arah ini terlihat dari pergerakan indeks saham utama di Amerika Serikat (AS). Indeks Dow Jones Industrial Average mencetak rekor tertinggi pada Jumat (6/2), sementara saham software justru kehilangan nilai hingga US$1 triliun dalam sepekan.

"Penjualan besar-besaran pada saham-saham yang sebelumnya mendorong pasar lebih tinggi mungkin telah mereda, tetapi kini kita justru melihat gelombang pembelian agresif pada saham-saham yang sama sekali berbeda," ujar Tim Murray, strategi pasar modal di T. Rowe Price, dikutip dari Reuters, Senin (9/2/2026).

Menurutnya, investor kini mulai mempertimbangkan risiko pada perusahaan hyperscaler AI seperti Amazon, Microsoft, dan Alphabet, yang menggelontorkan belanja modal besar untuk kecerdasan buatan (AI). Selain itu, ada kekhawatiran bahwa AI dapat mengganggu model bisnis perusahaan lain.

"Sekarang, mereka semua mengejar untuk membeli perusahaan yang lebih murah, mungkin tanpa seleksi yang ketat," kata Murray.

Pada perdagangan Jumat, indeks S&P 500 naik 1,78% dan Nasdaq 100 menguat hampir 2%. Namun, indeks Russell 2000 yang berisi saham smallcap justru melonjak 3,5%, mengungguli keduanya. Beberapa saham Magnificent Seven bahkan tidak ikut reli, seperti Amazon yang turun akibat kekhawatiran investor terhadap rencana belanja AI senilai US$200 miliar.

Dalam beberapa pekan terakhir, investor mulai bertaruh bahwa reli pasar yang selama ini didorong saham teknologi akan meluas ke sektor lain seperti industri, kesehatan, dan perusahaan kecil.

"Saya pikir perluasan yang mulai kita lihat sejak musim gugur dan terlihat paling dramatis dalam beberapa hari terakhir akan bertahan," kata Simeon Hyman, global investment strategist di ProShares. "Pertumbuhan dividen, indeks berbobot sama, dan perusahaan yang lebih kecil kemungkinan akan menjadi penerima manfaat," imbuhnya.

Pandangan ini dipicu oleh penilaian ulang risiko pada aset yang sebelumnya melonjak tajam, seperti saham teknologi, logam mulia, hingga bitcoin. Aset kripto tersebut sempat jatuh ke level terendah 16 bulan sebelum kembali naik, namun masih jauh dari rekor sebelumnya.

"Orang-orang bereaksi terhadap berbagai faktor yang merugikan aset-aset tersebut dengan mencari cara menyeimbangkan kembali portofolio mereka dan menjauh dari transaksi yang terlalu padat," kata Jim Carroll, penasihat kekayaan di Ballast Rock Private Wealth.

Meski pasar saham sempat menguat, sejumlah analis menilai sikap hati-hati investor masih bertahan. Mereka meragukan kemampuan perusahaan hyperscaler menghasilkan keuntungan dari belanja modal AI yang besar.

"Ke depan, orang-orang akan memiliki keraguan dan pertanyaan yang kuat," ujar Thierry Wizman, global FX and rates strategist di Macquarie Group.

Di tengah kondisi tersebut, dana investor mulai mengalir ke sektor yang lebih defensif dan sensitif terhadap ekonomi seperti energi, material, kebutuhan pokok, dan industri. Sektor-sektor ini bahkan mencatat kenaikan dua digit sepanjang tahun, jauh di atas kenaikan indeks S&P 500 yang hanya 1,3%.

Para analis menilai, pasar kini mulai memasuki fase baru, dengan rotasi dari saham teknologi raksasa ke sektor lain. Namun, pergeseran ini terjadi dalam kondisi yang bergejolak.

(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |