7 Sinyal Ekonomi di Awal 2026: RI Tancap Gas atau Mulai Melambat?

1 hour ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

09 February 2026 17:35

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah indikator perekonomian Indonesia, mulai dari capaian sepanjang 2025 hingga rilis data ekonomi pada awal 2026 dapat menjadi sinyal awal untuk membaca arah pergerakan ekonomi nasional sepanjang 2026.

Sejumlah indikator tersebut menjadi bahan penting untuk mengukur kesiapan ekonomi menatap tahun ini. Selaras dengan itu, CNBC Indonesia akan menggelar Economic Outlook 2026 dengan tema "Consolidating Growth, Accelerating the Transformation" pada Selasa (10/2/2026).

Dalam acara ini, sejumlah isu strategis akan dibahas melalui panel diskusi, mulai dari upaya menjaga penyesuaian dan memperkuat pertumbuhan ekonomi melalui inovasi, strategi memacu pertumbuhan lewat penguatan industri keuangan, perkembangan ekosistem keuangan digital, hingga arah hilirisasi di era pemerintahan Prabowo Subianto.

Economic Outlook 2026 juga akan menghadirkan narasumber dari sejumlah pemangku kebijakan, mulai dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Danantara.

Lantas, bagaimana kondisi perekonomian Indonesia terkini? Berikut sejumlah indikator terbaru yang dapat menjadi acuan untuk melihat outlook ekonomi ke depan.

1. Ekonomi Tumbuh Solid di 2025

Berdasarkan laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 tercatat tumbuh 5,39% secara tahunan (year-on-year/yoy) dan 0,86% secara kuartalan (quarter-on-quarter/qoq). Dengan capaian tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 mencapai 5,11%.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan kontribusi sekitar 53,8% terhadap PDB di 2025.

Pertumbuhan di konsumsi rumah tangga juga cukup solid dengan tumbuh 4,98% yoy di 2025 atau naik dibandingkan tahun sebelumnya yang tumbuh 4,94%.

Bahkan pada kuartal IV-2025, konsumsi rumah tangga mampu tumbuh 5,11% yoy dan menjadi laju pertumbuhan tertinggi sejak kuartal II-2023, atau yang paling kuat dalam lebih dari dua tahun.

2. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK)

Kuatnya kondisi ekonomi juga tercermin dari sisi keyakinan konsumen. Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Januari 2026 naik ke level 127, lebih tinggi dibandingkan Desember 2025 yang sebesar 123,5.

Kenaikan ini mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi yang membaik dan prospek ke depan yang semakin optimistis. BI menyebut, meningkatnya keyakinan konsumen bersumber dari persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi ke depan yang sama-sama berada di level optimis dan meningkat dibandingkan periode sebelumnya.

Secara rinci, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat naik ke 115,1 pada Januari 2026 dari 111,4 pada bulan sebelumnya. Sementara Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) meningkat menjadi 138,8 dari 135,6. Sebagai catatan, IEK mencerminkan ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi Indonesia enam bulan ke depan. Semakin tinggi indeksnya, semakin kuat optimisme masyarakat terhadap perekonomian.

3. Neraca Perdagangan RI

Tak hanya dari sisi konsumsi domestik, arah ekonomi juga tercermin dari kinerja perdagangan luar negeri.

Data terbaru BPS menunjukkan neraca perdagangan Indonesia kembali membukukan surplus sebesar US$2,51 miliar. Ini menjadi surplus 68 bulan beruntun sejak Mei 2020. Surplus tersebut ditopang ekspor sebesar US$26,35 miliar, sementara impor tercatat US$23,83 miliar.

Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Desember 2025 surplus sebesar US$41,05 miliar. Angka ini lebih besar dibandingkan 2024 yang surplus US$31,04 miliar. Surplus tersebut sejalan dengan ekspor kumulatif Januari-Desember 2025 yang mencapai US$282,21 miliar, lebih tinggi dibanding impor kumulatif pada periode yang sama sebesar US$241,86 miliar.

4. Inflasi

Sementara itu, dinamika ekonomi juga tercermin dari pergerakan harga di tingkat konsumen. Inflasi menjadi salah satu indikator yang paling diperhatikan pasar.

BPS melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Januari 2026 mengalami deflasi 0,15% (month-to-month/mtm).

Deflasi pada awal tahun ini terbilang cukup wajar, mengingat pada Desember biasanya menjadi periode puncak inflasi seiring meningkatnya permintaan saat libur perayaan Natal dan Tahun Baru.

Deflasi ini disumbang oleh cabai merah yang mengalami deflasi 0,16%, cabai rawit yang deflasi sebesar 0,08%. Adapun, bahan pangan lain yang mengalami deflasi yakni, bawang merah 0,07%.

Secara tahunan, inflasi Januari 2026 naik ke 3,55% (yoy), lebih tinggi dari 2,92% pada Desember 2025, terutama dipengaruhi efek basis rendah akibat kebijakan diskon listrik tahun sebelumnya.

Pemerintah menegaskan komitmen menjaga inflasi tetap terkendali, khususnya inflasi pangan di kisaran 3-5%, melalui penguatan pasokan, kelancaran distribusi, stimulus daya beli, serta koordinasi pusat dan daerah.

5. Cadangan Devisa

Kekuatan perekonomian juga tercermin dari seberapa tebal cadangan devisa yang dimiliki untuk meredam gejolak di pasar keuangan, termasuk pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2026 tercatat sebesar US$154,6 miliar, turun dibandingkan posisi akhir Desember 2025 yang sebesar US$156,5 miliar.

"Perkembangan tersebut antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons Bank Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat," tulis BI dalam siaran pers, Jumat (6/2/2026).

BI menyebut posisi cadangan devisa pada akhir Januari 2026 setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

"Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan."

BI juga meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik, didukung oleh cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.

6. Tingkat Pengangguran

Kondisi pasar tenaga kerja juga menjadi cermin penting untuk melihat daya tahan ekonomi nasional. Data BPS terbaru menunjukkan tren pengangguran Indonesia bergerak menurun.

BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia pada November 2025 sebesar 4,74%, melanjutkan tren penurunan sejak Agustus 2024.

Pada Agustus 2024, TPT tercatat 4,91%. Angka ini kemudian turun menjadi 4,76% pada Februari 2025, sempat naik ke 4,85% pada Agustus 2025, lalu kembali menurun pada November 2025.

Dari total 155,27 juta orang angkatan kerja, sebanyak 147,91 juta orang bekerja dan 7,35 juta orang menganggur. Sepanjang Agustus-November 2025, jumlah angkatan kerja bertambah 1,26 juta orang, sedangkan penyerapan tenaga kerja meningkat 1,37 juta orang. Dengan demikian, jumlah pengangguran berkurang 109 ribu orang.

Dari 147,91 juta orang yang bekerja, sebanyak 100,49 juta di antaranya merupakan pekerja penuh waktu yang bekerja setidaknya 35 jam dalam seminggu.

7. Tingkat Kemiskinan

Seiring dengan menurunnya tingkat pengangguran, angka kemiskinan pun ikut menurun.

Data dari BPS menunjukkan persentase penduduk miskin pada September 2025 sebesar 8,25%, lebih rendah dibandingkan Maret 2025 yang sebesar 8,47%.

Jumlah penduduk miskin pada September 2025 tercatat 23,36 juta orang. Angka ini turun 0,49 juta orang dibandingkan Maret 2025 dan menurun 0,70 juta orang dibandingkan September 2024.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
| | | |