Skandal Dokumen Rahasia Terungkap ke Publik, Presiden AS Mundur

2 hours ago 1
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Terbukanya arsip rahasia terkait Jeffrey Epstein menyeret sejumlah nama besar dunia. Sejumlah figur terkenal ikut tercantum, termasuk Presiden ke-42 Amerika Serikat (AS), Bill Clinton (1996-2001) dan Presiden ke-45 & 47 AS, Donald Trump, dalam beragam korespondensi, foto, serta catatan internal yang terungkap ke publik.

Meski demikian, keduanya menegaskan tidak terlibat dalam kejahatan seksual Epstein terhadap anak perempuan dan perempuan muda. Clinton dan Trump menyatakan hubungan mereka dengan Epstein terjadi sebelum relasi tersebut memburuk dan tidak berkaitan dengan tindak pidana.

Masuknya nama presiden AS dalam dokumen sensitif sejatinya bukan peristiwa baru dalam sejarah politik global. Sejarah mencatat, ada masa ketika arsip internal yang terbuka ke publik justru berujung pada runtuhnya seorang presiden yang sedang menjabat. Peristiwa itu dikenal sebagai skandal Watergate, yang mengakhiri kepresidenan Richard Nixon (1969-1974).

Mengutip Britannica, skandal Watergate bermula pada Juni 1972 ketika lima orang tertangkap membobol kantor pusat Komite Nasional Demokrat di kompleks Watergate, Washington DC. Kelima orang tersebut hendak memasang alat penyadap dan mencuri dokumen internal Partai Demokrat, tetapi upaya itu gagal setelah mereka keburu tertangkap aparat.

Pada awalnya, pembobolan dan percobaan penyadapan tersebut dipandang sebagai tindak kriminal biasa. Namun, rahasia mulai terbuka ketika The Washington Post mengungkap salah satu pelaku, John McCord, merupakan koordinator keamanan Komite Pemenangan Kembali Presiden Nixon.

McCord diketahui memiliki keterkaitan langsung dengan tim kampanye Nixon dalam pemilihan presiden Amerika Serikat 1972. Saat itu, Nixon tengah menjabat Presiden AS dan sedang menyusun strategi untuk memenangkan masa jabatan kedua melalui Partai Republik.

Di luar proses penyidikan, investigasi mendalam yang dilakukan jurnalis Carl Bernstein dan Bob Woodward juga menemukan aliran dana kampanye US$25.000 untuk mendukung proses penyadapan. Temuan ini mengubah Watergate dari sekadar kasus pembobolan menjadi krisis politik nasional, yang ditopang oleh dokumen, catatan keuangan, dan arsip rahasia. 

Penyelidikan resmi memasuki babak persidangan pada Mei 1973. Sidang yang disiarkan secara luas itu menyedot perhatian publik dan meningkatkan tekanan politik secara signifikan. Berbagai kesaksian mengungkap fakta-fakta yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan publik, termasuk keterlibatan langsung lingkaran Gedung Putih dalam skandal Watergate.

Salah satu temuan krusial adalah terbukanya arsip rahasia berupa rekaman percakapan internal di Gedung Putih. Dalam Watergate a Brief History With Documents (2010), arsip tersebut menunjukkan adanya persetujuan dari Presiden Richard Nixon terhadap upaya penyadapan demi kepentingan pemilihan umum. Temuan ini mendorong desakan agar Nixon menyerahkan seluruh dokumen dan rekaman terkait, mengingat dia diketahui memiliki kebiasaan mencatat dan merekam percakapan di kantornya.

Nixon sempat menahan arsip tersebut, sehingga memicu krisis konstitusional. Untungnya, situasi ini berakhir setelah Mahkamah AS memerintahkan agar seluruh rekaman diserahkan dan dibuka ke publik.

Akhirnya, pada 30 Juli 1974, arsip tersebut akhirnya dirilis. Dari sini diketahui kalau Nixon memanfaatkan kewenangan untuk memuluskan langkahnya terus berkuasa. Bahkan, dia tak hanya meminta penyadapan, tetapi juga meminta FBI menghentikan penyelidikan kasus, mengganti orang-orang peradilan, hingga menyuap para penyusup agar tidak buka suara. 

Sampai akhirnya, terkuaknya arsip rahasia menjadi titik akhir karier politik Nixon.  Dukungan politik runtuh dan proses pemakzulan tak terhindarkan. Namun, sebelum dimakzulkan, pada 9 Agustus 1974, Richard Nixon mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden Amerika Serikat dan digantikan oleh Wakil Presiden Gerald Ford. 

Pengunduran diri ini menjadikan Nixon sebagai satu-satunya Presiden AS yang mundur secara sukarela dalam menjabat. 

(mfa/luc)

Read Entire Article
| | | |