IHSG Ambruk Lagi, Ini 15 Emiten Paling Ambruk

1 hour ago 2

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

06 February 2026 10:20

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketidakpastian global kembali mengguncang pasar modal tanah air.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka dengan koreksi tajam pada perdagangan hari ini, langsung terperosok sedalam 2,29% ke level 7.918,43 pada pukul 09.010 WIB.

Aksi jual masif (panic selling) ini terjadi seketika setelah pembukaan pasar, mencerminkan respons reaktif investor terhadap perubahan persepsi risiko investasi di Indonesia.

Sentimen negatif utama datang dari laporan terbaru lembaga pemeringkat kredit internasional, Moody's. Lembaga tersebut resmi merevisi outlook rating Indonesia dari stabil menjadi negatif. Kendati demikian, penting dicatat bahwa Moody's tetap mempertahankan peringkat utang (Sovereign Credit Rating) Indonesia di level layak investasi (Baa2).

Ketidakpastian Kebijakan Jadi Sorotan

Dalam asesmen terbarunya, Moody's menyoroti penurunan prediktabilitas kebijakan di Indonesia sebagai faktor utama perubahan outlook. Mereka menilai adanya risiko yang berpotensi melemahkan efektivitas kebijakan serta kualitas tata kelola pemerintahan.

Bagi pelaku pasar, ketidakpastian regulasi sering kali dianggap sebagai risiko yang lebih menakutkan dibandingkan data ekonomi yang buruk, sehingga memicu aksi cash out besar-besaran, terutama pada aset-aset berisiko tinggi.

Daftar 15 Saham Top Losers (Penurunan Terdalam)

Tekanan jual hari ini menghantam rata hampir seluruh sektor, dengan dampak terparah dirasakan oleh saham-saham lapis kedua dan ketiga. Berikut adalah 15 saham yang mencatatkan penurunan harga paling signifikan berdasarkan data perdagangan sesi ini:

Merespons gejolak pasar, Pemerintah melalui Kementerian Keuangan segera memberikan klarifikasi. Kantor Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa penilaian Moody's telah melalui proses asesmen mendalam bersama berbagai otoritas, termasuk Bank Indonesia, OJK, dan Danantara.

Pemerintah memastikan akan meningkatkan komunikasi publik dan kualitas koordinasi antarkementerian untuk menjawab kekhawatiran terkait prediktabilitas kebijakan.

Bank Indonesia menekankan bahwa revisi outlook ini tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya. 

Data makroekonomi terbaru justru menunjukkan tren positif. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan IV 2025 tercatat sebesar 5,39%, melampaui ekspektasi pasar, sehingga pertumbuhan sepanjang tahun 2025 mencapai 5,1%. Selain itu, inflasi tetap terjaga rendah di level 2,92%.

Prospek ke Depan

Moody's sendiri memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap berada di kisaran 5% dalam jangka menengah. Namun, mereka memberikan catatan khusus mengenai perlunya memperkuat basis penerimaan negara untuk menopang belanja prioritas.

Pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada. Fokus investor kini tertuju pada langkah konkret pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal dan memulihkan kepercayaan pasar melalui sinergi kebijakan yang lebih konsisten antara sektor riil, fiskal, dan moneter.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Read Entire Article
| | | |