Dokter Sebut Benjolan di Leher tidak Selalu terkait Kelainan Tiroid

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Menemukan benjolan pada area leher seringkali memicu kekhawatiran bagi banyak orang. Anggapan masyarakat pada umumnya langsung tertuju pada masalah kelenjar tiroid atau penyakit gondok.

Dokter Spesialis Bedah, Subspesialis Bedah Onkologi, dr. Nina Irawati, Sp.B (K) Onk-KL dari Mayapada Hospital mengatakan bahwa anatomi leher sangat kompleks dan benjolan yang muncul bisa disebabkan oleh berbagai faktor lain yang berbeda secara medis. Ada sejumlah penyebab benjolan di leher, bukan hanya karena gangguan tiroid.

Sebagian besar benjolan leher sebenarnya tidak berbahaya karena jinak atau non-kanker. Hanya saja, benjolan leher juga bisa menjadi tanda kondisi serius, seperti infeksi atau pertumbuhan kanker.

"Benjolan di leher belum tentu kanker tiroid karena bisa juga disebabkan oleh kondisi lain seperti nodul tiroid jinak, limfoma, atau pembengkakan kelenjar getah bening, dan banyak benjolan tidak berbahaya. Kita mesti tahu apakah ini arahnya kelainan yang jinak atau ganas yang disebut kanker," kata dr. Nina Irawati dalam akun YouTube Mayapada Hospital Podcast yang dikutip CNBC Indonesia, Jumat (6/2/2026).

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa penyebab benjolan pada leher bisa disebabkan berbagai hal. Jika bersifat ganas biasanya disebabkan oleh radiasi di daerah leher sebelumnya atau riwayat keluarga.

Sementara itu, ada beberapa gejala benjolan yang perlu diwaspadai. Diantaranya tidak bergerak, ukurannya membesar, tidak hilang dalam dua minggu, atau disertai gejala lain seperti nyeri, demam, penurunan berat badan drastis, atau perubahan kulit di sekitarnya.

Gejala-gejala ini dapat mengindikasikan kondisi serius, sehingga penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.
Pengobatan. Ada beberapa tindakan untuk mengobati benjolan pada leher. Umumnya, dokter akan melihat penyebab awalnya.

Jika disebabkan oleh infeksi, maka dokter akan meresepkan beberapa obat-obatan seperti antivirus atau antibiotik. Sementara itu, jika disebabkan oleh kondisi jinak seperti lipoma atau kista, dokter akan melakukan operasi pengangkatan benjolan.

Apabila benjolan bersifat ganas atau kanker, maka perawatan seperti operasi, terapi radiasi dan kemoterapi mungkin dilakukan. Ini termasuk tindakan minimal invasif dan teknologi RFA (Radiofrequency Ablation) suatu prosedur dengan teknologi canggih yang tersedia di Mayapada Hospital Surabaya.

Selain itu, disarankan untuk menerapkan pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan sehat, beristirahat yang cukup, perbanyak mengonsumsi air putih, rutin berolahraga, berhenti merokok, berhenti mengonsumsi minuman beralkohol, serta tidak lupa memperoleh vaksin MMR dan HPV.

(miq/miq)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |