Harga Emas Kembali Mengamuk, Pesta Pora Babak Baru Dimulai

5 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas melonjak tajam setelah dibukanya kembali Selat Hormuz dan dimulainya gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.

Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) yang juga dipicu perkembangan di Timur Tengah, turut menjaga harga emas tetap tinggi.

Merujuk Refinitiv, harga emas ditutup di posisi US$ 4828,3 per troy ons atau melonjak 0,85% pada perdagangan Jumat (17/4/2026). Harga penutupan ini adalah yang tertinggi dalam empat hari terakhir. Penguatan ini memutus tren negatif emas yang ambruk dua hari beruntun sebelumnya.

Dalam sepekan, harga emas naik 1,7%. Artinya, emas sudah menguat dalam empat pekan beruntun.

Iran mengumumkan pada Jumat pagi bahwa Selat Hormuz terbuka dan diperkirakan akan tetap demikian selama masa gencatan senjata Israel-Lebanon yang dijadwalkan berlangsung 10 hari.

Dalam unggahan di Truth Social, Presiden AS Donald Trump mengatakan Israel dilarang mengebom Beirut. Media internasional juga melaporkan AS akan bertemu Iran akhir pekan ini, dengan harapan tercapai kesepakatan final untuk mengakhiri perang.

Analis Commerzbank menilai harapan berakhirnya perang meredakan kekhawatiran bahwa bank sentral harus merespons risiko inflasi tinggi dengan kebijakan moneter lebih ketat, yang biasanya meningkatkan biaya peluang memegang emas. Pesta emas pun bakal dimulai lagi.

Setelah perkembangan diplomatik tersebut, pasar mulai meyakini bahwa The Federal Reserve berpeluang memangkas suku bunga secepatnya pada 2026. Berdasarkan alat pantau CME Group, mayoritas investor memperkirakan pemangkasan suku bunga akan terjadi pada Desember.

Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap mata uang utama dunia, turun ke level 98,098. Pembelian emas global dikonversi dalam dolar AS sehingga pelemahan dolar membuat emas lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Secara fundamental, prospek emas juga masih kuat. Permintaan global tetap solid, didukung pembelian bank sentral, investor China, dan India. Selain itu, risiko pelemahan pasar saham global juga dapat meningkatkan minat diversifikasi ke emas.

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |