Xi Jinping Tiba-Tiba Telepon Trump, Warning Jangan Main-Main Soal Ini

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemimpin China Xi Jinping pada Kamis (5/2/2026) memperingatkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, untuk bertindak "bijaksana" terkait pasokan senjata ke Taiwan. Peringatan ini disampaikan dalam percakapan telepon pertama kedua pemimpin tersebut sejak November lalu.

Dalam sebuah rilis yang diungkapkan oleh Kementerian Luar Negeri China, Xi disebut telah menegaskan isu Taiwan merupakan sesuatu yang penting bagi Beijing.

"Presiden Xi menekankan bahwa masalah Taiwan adalah isu paling penting dalam hubungan China-AS," demikian bunyi pernyataan resmi tersebut dikutip Guardian.

"China harus menjaga kedaulatan dan integritas teritorialnya sendiri, dan tidak akan pernah membiarkan Taiwan dipisahkan. AS harus menangani isu penjualan senjata ke Taiwan dengan penuh kebijaksanaan."

Meskipun AS tidak secara resmi mengakui Taiwan sebagai sebuah negara, Washington tetap menjadi pendukung informal dan pemasok senjata terkuat bagi pulau tersebut. Pada Desember lalu, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan paket penjualan senjata terbesar yang pernah ada untuk Taiwan senilai lebih dari US$ 11,1 miliar (sekitar Rp 186,4 triliun), yang mencakup rudal, sistem artileri, dan drone. Namun, paket tersebut masih menunggu persetujuan dari Kongres.

Menanggapi situasi tersebut, Presiden Taiwan Lai Ching-te menyatakan pada Kamis bahwa hubungan antara Taipei dan Washington tetap tidak tergoyahkan. Pernyataan ini disampaikan saat kunjungannya ke pedagang tekstil di wilayah barat Taiwan, hanya beberapa jam setelah laporan pembicaraan Xi dan Trump mencuat.

"Hubungan Taiwan-AS sangat kokoh, dan semua proyek kerja sama akan terus berlanjut tanpa gangguan," tegas Presiden Lai Ching-te kepada wartawan.

Taiwan merupakan wilayah demokrasi yang memerintah sendiri, namun diklaim oleh China sebagai bagian dari wilayahnya yang akan disatukan kembali, bahkan dengan kekerasan jika diperlukan. Beijing secara tegas melarang semua negara yang memiliki hubungan diplomatik dengannya, termasuk AS, untuk menjalin hubungan formal dengan Taipei.

Ketegangan sempat memuncak ketika China bereaksi keras terhadap usulan penjualan senjata AS pada akhir Desember lalu dengan menggelar latihan militer selama dua hari di sekitar pulau tersebut, yang melibatkan unit angkatan udara, angkatan laut, dan rudal.

Di sisi lain, rencana kenaikan anggaran pertahanan Taiwan menjadi 3,3% dari PDB juga menghadapi tantangan domestik dari partai oposisi KMT. Parlemen yang dikuasai oposisi telah memblokir rencana anggaran Lai, termasuk anggaran pertahanan khusus senilai US$ 40 miliar (Rp 672 triliun).

Di luar isu Taiwan, Presiden Trump melalui unggahan di platform Truth Social pada Rabu malam menggambarkan pembicaraannya dengan Xi sebagai diskusi yang "sangat baik" dan "menyeluruh". Selain membahas masa depan Taiwan, percakapan tersebut juga mencakup perang Rusia di Ukraina, situasi terkini di Iran, serta pembelian minyak dan gas China dari AS.

Trump menyatakan bahwa dirinya menantikan kunjungan ke China pada April mendatang, yang akan menjadi perjalanan pertamanya ke negara tersebut dalam masa jabatan kali ini. Ia juga mengungkapkan potensi penguatan kerja sama di sektor pangan.

"China sedang mempertimbangkan untuk membeli 20 juta ton kedelai AS pada musim ini, naik signifikan dibandingkan 12 juta ton pada musim sebelumnya," tulis Trump dalam unggahannya.

(tps/tps)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |