New START Nuklir di Ujung Tanduk, Nasib Dunia di Tangan AS-Rusia?

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat dan Rusia disebut semakin mendekati kesepakatan untuk tetap mematuhi perjanjian pengendalian senjata nuklir New START setelah masa berlakunya berakhir pada Kamis, di tengah serangkaian pembicaraan intensif yang berlangsung di Abu Dhabi.

Laporan Axios yang mengutip tiga sumber yang mengetahui proses negosiasi menyebutkan kedua negara sedang merampungkan kesepakatan untuk mengamati ketentuan New START dalam jangka waktu tambahan, meskipun perjanjian tersebut secara resmi akan kedaluwarsa. Namun, menurut sumber lain, hingga 24 jam terakhir belum tercapai kesepakatan final dalam perundingan di Abu Dhabi.

New START, yang ditandatangani pada 2010, membatasi jumlah rudal, peluncur, dan hulu ledak strategis yang boleh dimiliki masing-masing pihak. Perjanjian ini merupakan yang terakhir dari rangkaian kesepakatan pengendalian senjata nuklir yang dimulai sejak era Perang Dingin lebih dari setengah abad lalu.

Gedung Putih belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut. Namun, isu ini muncul di tengah sejumlah perkembangan penting dalam hubungan Washington dan Moskow.

Komando Eropa militer AS pada Kamis menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Rusia sepakat di Abu Dhabi untuk melanjutkan kembali dialog tingkat tinggi antarmiliter.

Di saat yang sama, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan bahwa perundingan damai dengan Rusia, yang didukung oleh AS, akan terus berlanjut dalam waktu dekat, setelah para negosiator menyelesaikan putaran kedua pembicaraan di Abu Dhabi.

Menurut laporan Axios, belum jelas apakah kesepakatan untuk tetap mematuhi New START dalam periode tambahan, yang disebut bisa berlangsung sekitar 6 bulan, akan dituangkan dalam bentuk dokumen formal atau hanya berupa keputusan politik sementara.

Dari Moskow, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan Rusia masih terbuka untuk berdialog dengan AS, asalkan Washington memberikan respons yang dianggap konstruktif terhadap usulan Rusia.

"Dengar, jika ada tanggapan yang konstruktif, tentu kami akan melakukan dialog," kata Peskov.

New START sebelumnya hanya memungkinkan satu kali perpanjangan, yang telah disepakati oleh mantan Presiden AS Joe Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin selama lima tahun. Setiap perpanjangan baru setelah masa itu berakhir tidak bisa dilakukan secara otomatis, melainkan memerlukan keputusan eksekutif untuk secara sukarela tetap mematuhi batasan perjanjian.

Presiden AS saat ini, Donald Trump, yang pada Rabu berbicara dengan Presiden China Xi Jinping, disebut ingin melibatkan China dalam kesepakatan pengurangan senjata nuklir. Namun, Beijing sejauh ini menolak ikut dalam negosiasi trilateral dengan alasan jumlah hulu ledak nuklirnya jauh lebih kecil.

China diperkirakan hanya memiliki sekitar 600 hulu ledak, dibandingkan sekitar 4.000 yang dimiliki masing-masing Rusia dan Amerika Serikat.

Gedung Putih pekan ini menyatakan Trump akan menentukan arah kebijakan pengendalian senjata nuklir ke depan dan akan "menjelaskannya sesuai dengan waktunya sendiri", tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |