Trump Warning 'Hal Buruk' ke Iran, Beri Ancaman Mematikan ke Khamenei

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan ancaman mematikan kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menjelang perundingan nuklir yang dijadwalkan berlangsung di Oman, Jumat ini. Trump memperingatkan Teheran untuk menghentikan ambisi nuklirnya atau menghadapi konsekuensi fatal.

Ketegangan ini memuncak setelah intelijen AS mendeteksi rencana Iran membangun fasilitas nuklir baru pasca-serangan udara AS pada Juni lalu. Trump menegaskan bahwa Washington tidak akan menoleransi langkah tersebut dan siap melakukan tindakan militer yang lebih destruktif.

"Mereka sedang berpikir untuk memulai situs baru di bagian lain negara itu. Kami mengetahuinya, saya katakan, jika Anda melakukan itu, kami akan melakukan hal-hal yang sangat buruk kepada Anda," tegas Trump dalam wawancara dengan NBC News, Rabu waktu setempat.

Trump menilai Khamenei saat ini dalam posisi yang sangat terjepit dan seharusnya merasa terancam dengan kehadiran militer AS yang masif di kawasan tersebut.

"Saya akan katakan bahwa dia seharusnya sangat khawatir, ya, dia harus khawatir. Seperti yang Anda ketahui, mereka sedang bernegosiasi dengan kami," tambah Trump.

Di tengah ancaman tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi bahwa pihaknya tetap akan hadir dalam negosiasi di Muscat, Oman. Pengumuman ini muncul setelah sempat beredar laporan bahwa pembicaraan terancam kolaps, yang memicu gejolak pada harga minyak mentah dunia.

"Pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat dijadwalkan akan diadakan di Muscat," kata Araghchi sembari menyampaikan apresiasi kepada Oman "karena telah membuat semua pengaturan yang diperlukan."

Harga Mati dari Amerika Serikat

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa Washington tidak akan memberikan ruang diplomasi yang lunak. Rubio menuntut agar perundingan Jumat nanti tidak hanya menyentuh isu nuklir, melainkan wajib mencakup pembatasan total program rudal balistik Iran.

"Jika orang Iran ingin bertemu, kami siap. Jika mereka berubah pikiran, kami juga tidak masalah dengan itu," ujar Rubio lugas. Ia mengakui sempat ada kesimpangsiuran laporan mengenai kehadiran Teheran sebelum akhirnya lokasi di Muscat dipastikan. "Itu masih diupayakan," katanya sebelum pernyataan resmi Iran keluar.

Posisi Iran saat ini dinilai berada di titik nadir. Selain tekanan militer dari armada tempur AS, Teheran kehilangan sekutu strategisnya setelah hancurnya kekuatan Hizbullah di Lebanon dan jatuhnya rezim Bashar Al Assad di Suriah.

Di sisi lain, protes domestik yang kian bergejolak membuat pemerintah Iran tidak memiliki banyak pilihan selain bertahan di meja perundingan di bawah bayang-bayang ancaman "hal buruk" dari Donald Trump.

(tps/tps)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |