Quesnay dan Turgot

2 hours ago 5

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Pengantar Serial Matinya Ilmu Ekonomi: Di tengah dunia yang terus bergerak cepat namun terasa semakin kosong, kami mengajak anda untuk berhenti sejenak, untuk menoleh ke belakang, menatap ke dalam, dan melihat ke depan.

Serial Matinya Ilmu Ekonomi bukan sekadar kumpulan kritik. Ia adalah upaya jujur untuk memandang ilmu ekonomi dari sudut yang jarang diterangi: dari sisi yang tidak selalu efisien, tidak selalu rasional, tapi sepenuhnya manusiawi.

Di sini, kami ingin menyegarkan kembali ingatan kita akan mengapa ekonomi ada, bukan hanya sebagai alat hitung, tetapi sebagai cermin kegembiraan, pencapaian, penderitaan, ketimpangan, dan harapan zaman. Adapun episode ke-19 ini kami beri judul: "Quesnay dan Turgot (Bagian 1)".

---

Pada akhir abad ke-18, Prancis adalah negeri yang membingungkan. Ia memiliki tanah yang luas. Sungai-sungai yang subur. Penduduk yang lebih banyak daripada Inggris. Tentara yang ditakuti oleh tetangganya. Bahasa Prancis menjadi bahasa diplomasi Eropa. Raja-raja kecil di berbagai istana meniru mode berpakaian Paris. Bahkan para bangsawan Rusia belajar berbicara dalam bahasa Prancis sebelum mereka belajar memahami rakyatnya sendiri.

Segala sesuatu tentang Prancis tampak seperti lambang kejayaan. Kecuali satu hal, Negara itu kehabisan uang. Ini adalah salah satu paradoks terbesar dalam sejarah ekonomi. Bagaimana mungkin negeri yang begitu kaya bisa begitu miskin? Bagaimana mungkin kerajaan yang mengendalikan sebagian besar Eropa daratan justru hidup dari utang? Bagaimana mungkin sebuah bangsa yang begitu percaya diri mulai takut pada para krediturnya? Pertanyaan-pertanyaan itu mulai menghantui Paris.

Di istana Versailles, para bangsawan masih menari. Para pelayan masih membawa anggur. Kereta-kereta emas masih berlalu lalang melewati taman-taman yang tertata rapi. Dari kejauhan, tidak ada yang tampak salah.

Namun di bawah lantai marmer itu, fondasi kerajaan mulai retak. Perang demi perang telah menguras kas negara. Kemegahan yang dibangun selama beberapa generasi ternyata memiliki harga yang harus dibayar. Dan seperti semua tagihan dalam sejarah, suatu hari seseorang harus menanggungnya.

Masalahnya adalah tidak ada seorang pun yang ingin menjadi orang itu. Para petani sudah membayar pajak, pedagang juga sudah, dan juga para pengrajin. Tetapi kelompok yang paling berkuasa justru memiliki begitu banyak pengecualian sehingga beban kerajaan semakin bertumpu pada mereka yang paling lemah.

Semakin lama, sistem itu mulai terlihat seperti sebuah pohon tua yang masih tampak kokoh dari luar, tetapi diam-diam telah keropos di bagian dalam. Namun kegelisahan Prancis tidak berhenti pada persoalan pajak.

Prancis memiliki tanah, manusia, dan tentara. Tetapi ada perasaan yang semakin sulit diabaikan: Mengapa bangsa yang menghasilkan kekuatan tidak selalu menjadi bangsa yang mengendalikan uang? Bagi sebagian orang, itu hanyalah persoalan ekonomi. Bagi sebagian yang lain, itu mulai menjadi persoalan harga diri nasional.

Dan ketika sebuah persoalan ekonomi berubah menjadi persoalan harga diri, sejarah biasanya mulai bergerak ke arah yang berbeda. Mereka melihat penyakit yang sama. Tetapi mereka menawarkan obat yang berbeda. Dan nasib Prancis akan ditentukan oleh obat mana yang akhirnya dipilih. Cerita ini adalah tentang orang-orang itu.

François Quesnay: Dokter yang Mencari Jantung Prancis
Di antara para pemikir yang mencoba memahami penyakit Prancis, mungkin tidak ada yang lebih aneh daripada François Quesnay. Ia bukan bangsawan, Ia bukan pedagang, Ia bukan menteri keuangan, juga bukan ekonom.

Ia lahir pada tahun 1694 di sebuah keluarga petani kecil di Méré, tidak jauh dari Paris. Masa mudanya jauh dari istana. Ia tumbuh di dunia yang mengenal musim panen lebih baik daripada politik. Dunia yang memahami bahwa kehidupan manusia pada akhirnya bergantung pada tanah. Kelak pengalaman masa kecil itu akan membentuk seluruh cara pandangnya tentang ekonomi.

Quesnay memilih menjadi dokter. Dan ia berhasil, Sangat berhasil. Keahliannya membawanya ke Versailles. Ia menjadi dokter pribadi Madame de Pompadour, salah satu perempuan paling berpengaruh di Prancis, dan kemudian ia menjadi dokter kerajaan.

Ironisnya, justru dari ruang tidur para bangsawan itulah ia mulai memikirkan ekonomi. Setiap hari ia melihat dua dunia yang berbeda. Di luar istana, petani bekerja, sawah ditanami, gandum dipanen, makanan diproduksi.

Di dalam istana, Orang-orang berbicara tentang pajak, tentang utang, tentang perdagangan, tentang emas. Dan Quesnay mulai bertanya: Dari semua aktivitas ini, mana yang benar-benar menciptakan kekayaan?

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun pada abad ke-18, ia bersifat revolusioner. Sebagian besar Eropa saat itu masih hidup dalam bayang-bayang Merkantilisme. Menurut pandangan yang dominan, kekayaan bangsa diukur oleh emas dan perak yang dimilikinya. Negara berlomba mengumpulkan logam mulia. Koloni dicari, Perdagangan dikendalikan, Impor dibatasi, Ekspor didorong.

Dalam dunia seperti itu, emas dianggap sebagai sumber kekayaan. Quesnay tidak setuju. Sebagai dokter, ia terbiasa membedakan antara gejala dan penyebab. Dan menurutnya, emas hanyalah gejala, Bukan sumber kehidupan.

Sama seperti darah bukanlah pencipta kehidupan manusia. Darah hanya mengalirkan kehidupan yang telah diciptakan oleh organ-organ tubuh. Maka ia mulai melihat negara seperti melihat tubuh manusia. Tanah adalah jantungnya, Petani adalah paru-parunya, Produksi adalah denyut nadinya.

Jika produksi berhenti, maka seluruh sistem akan mati. Dari pemikiran itulah lahir kelompok yang kemudian dikenal sebagai physiocrats. Kata itu berasal dari bahasa Yunani: physis - alam, kratos - kekuasaan.

Secara harfiah:Pemerintahan oleh hukum alam. Mereka percaya bahwa masyarakat memiliki tatanan alami. Dan tugas negara bukan menciptakan kekayaan, Melainkan membiarkan kekayaan tumbuh.

Quesnay kemudian menulis sebuah karya yang kelak membuatnya terkenal: Tableau Économique (1758). Hari ini karya itu tampak sederhana, Hanya sebuah diagram, Panah-panah yang menunjukkan aliran uang dan barang. Namun bagi zamannya, itu adalah sesuatu yang luar biasa.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, seseorang mencoba menggambarkan ekonomi sebagai sebuah sistem yang saling terhubung. Bukan kumpulan transaksi yang berdiri sendiri, melainkan sebuah organisme hidup.

Quesnay melihat petani menghasilkan surplus yang kemudian mengalir kepada pemilik tanah, kemudian dibelanjakan kepada pengrajin dan pedagang, Lalu kembali lagi ke sektor produksi. Seperti darah yang beredar di tubuh manusia. Jika aliran itu tersumbat, Tubuh akan sakit.

Jika aliran itu bebas, tubuh akan sehat. Karena itu solusi Quesnay terhadap krisis Prancis sangat sederhana, hampir terlalu sederhana. Kurangi hambatan, kurangi pajak yang mengganggu produksi, Kurangi regulasi yang membebani petani. Biarkan tanah bekerja, Biarkan ekonomi bernapas.

Baginya, Prancis tidak miskin. Prancis hanya menghalangi dirinya sendiri untuk menjadi kaya. Namun ada satu masalah, Quesnay hidup di Versailles, Dan Versailles dibangun di atas sesuatu yang sangat tidak alami, yaitu hak istimewa.

Ia sedang mencoba menyembuhkan tubuh yang sakit. Tetapi penyakit terbesar tubuh itu justru berasal dari organ-organ yang paling berkuasa. Maka meskipun para bangsawan senang mendengarkan teorinya, jauh lebih sedikit dari mereka tertarik untuk menjalankannya.

Quesnay meninggal pada tahun 1774. Ia tidak pernah melihat Revolusi Prancis, Ia tidak pernah melihat guillotine. Tetapi ia meninggalkan sebuah pertanyaan yang akan menghantui seluruh generasi setelahnya: Jika kekayaan lahir dari produksi, mengapa bangsa yang paling produktif justru hidup dari utang?

Dan di antara orang-orang yang mendengar pertanyaan itu, ada seorang pejabat muda bernama Turgot. Tidak seperti Quesnay, Turgot tidak hanya ingin memahami penyakit Prancis, ia ingin mengobatinya.

Turgot: Orang yang Meminta Para Pemenang Membayar Tagihan
Jika François Quesnay adalah seorang dokter yang mencoba memahami tubuh Prancis, maka Anne Robert Jacques Turgot, Baron de l'Aulne adalah seorang administrator yang terpaksa hidup di dalam tubuh bangsa yang sedang sekarat. Lahir pada tahun 1727 dari keluarga birokrat Paris yang terpandang.

Sejak muda ia menunjukkan sesuatu yang jarang ditemukan pada pejabat kerajaan: ia lebih tertarik pada cara kerja sistem daripada cara mempertahankan jabatan. Ia membaca para filsuf, Ia membaca Quesnay, Ia membaca kaum Physiocrats. Namun tidak seperti banyak intelektual sezamannya, Turgot harus menghadapi kenyataan.

Quesnay bisa berbicara tentang produksi, tapi Turgot harus menandatangani tagihan. Quesnay bisa menggambar aliran ekonomi, Turgot harus mencari uang untuk membayar bunga utang kerajaan. Ketika menjadi Intendant di Limoges, salah satu provinsi termiskin di Prancis, ia melihat sesuatu yang tidak pernah terlihat dari Versailles.

Ia melihat bagaimana negara sebenarnya bekerja. Atau lebih tepatnya, bagaimana negara gagal bekerja. Jalan rusak, petani miskin, pajak tinggi, produksi tersendat. Namun yang paling membuatnya marah bukanlah kemiskinan, melainkan distribusi beban.

Di seluruh Prancis, Semakin tinggi posisi seseorang dalam masyarakat, Semakin kecil kemungkinan ia membayar pajak. Petani membayar, pedagang membayar, pengrajin membayar. Tetapi banyak bangsawan tidak, Banyak institusi gereja tidak.

Turgot melihat absurditas ini dengan sangat jelas. Negara sedang bangkrut, tetapi kelompok yang paling mampu membantu justru memiliki perlindungan paling besar. Dalam bahasa modern. Ia melihat bahwa masalah Prancis bukan semata-mata produktivitas. Masalahnya adalah: siapa yang menanggung biaya negara.

Tahun 1774. Raja baru naik takhta, Louis XVI, Masih muda, Masih idealis, Masih percaya bahwa reformasi mungkin dilakukan. Dan untuk sesaat, Sejarah memberi kesempatan kepada Turgot. Ia diangkat menjadi Controller-General of Finances. Jabatan yang hari ini kira-kira setara gabungan Menteri Keuangan dan Menteri Koordinator Perekonomian.

Untuk pertama kalinya, Orang yang memahami masalah mendapat kesempatan memperbaikinya. Dan Turgot bergerak cepat, Ia menghapus berbagai pembatasan perdagangan gandum, ia mengurangi berbagai monopoli. Ia mencoba merasionalisasi pengeluaran kerajaan.

Namun inti seluruh programnya sebenarnya jauh lebih sederhana. Ia ingin satu hal: semua orang harus ikut membayar, tidak ada lagi kelompok yang kebal, dan tidak ada lagi kelompok yang hidup dari pengecualian. Kalau negara membutuhkan uang, Maka seluruh bangsa harus ikut menanggung.

Hari ini terdengar biasa, tapi pada tahun 1774, itu hampir seperti deklarasi perang terhadap aristokrasi. Para bangsawan marah, para pemilik hak istimewa marah. Istana mulai gelisah, dan semakin banyak orang mulai berbisik: Orang ini berbahaya.

Padahal Turgot tidak ingin revolusi. Justru sebaliknya, Ia adalah salah satu orang terakhir yang mencoba menyelamatkan monarki. Ia memahami sesuatu yang luar biasa penting: Jika penyesuaian tidak dilakukan sekarang, maka sejarah akan melakukannya dengan cara yang lebih kejam.

Tetapi sejarah sering kali tidak memberi hadiah kepada orang yang benar terlalu cepat. Turgot memiliki masalah yang sama dengan banyak reformis sepanjang sejarah. Ia meminta pengorbanan dari orang-orang yang memiliki kekuasaan untuk menolak pengorbanan tersebut, dan mereka menggunakan kekuasaan itu.

Tahun 1776, Hanya dua tahun setelah menjabat, Turgot dipecat. Salah satu kalimat terakhir yang sering dikaitkan dengannya kepada Raja Louis XVI berbunyi: "Jangan pernah lupa, Sire, bahwa kelemahanlah yang telah membawa kepala Charles I ke tiang eksekusi. Ia sedang mengingatkan sang raja tentang nasib Raja Inggris yang kehilangan tahtanya.

Tetapi Louis tidak mendengarkan, Turgot pergi, Utang tetap ada, Defisit tetap ada, Hak istimewa tetap ada. Dan yang paling penting, Pertanyaan yang diajukan Turgot tetap tidak terjawab. Siapa yang akan menanggung biaya penyelamatan Prancis? Karena setiap bangsa yang menghadapi krisis pada akhirnya hanya memiliki beberapa pilihan. Membagi beban, Meningkatkan produksi, Atau hal lain yang mungkin absurd.

Quesnay memilih jalan pertama, Turgot mencoba jalan kedua. Namun Prancis ternyata belum siap menerima keduanya. Dan ketika sebuah bangsa menolak memperbesar produksi serta menolak membagi beban, sejarah biasanya mulai mencari orang ketiga.

Di saat yang sama, di luar Paris, kemarahan mulai tumbuh terhadap sesuatu yang lebih besar daripada pajak. Lebih besar daripada utang, Lebih besar daripada Versailles. Semakin banyak orang mulai bertanya: Mengapa bangsa yang memiliki tanah, tentara, dan rakyat yang besar justru bergantung pada kota-kota dagang yang kecil?

Kota Dagang dan Kecurigaan
Ketika François Quesnay meninggal, Prancis masih memiliki harapan. Ketika Turgot dipecat, harapan itu mulai menipis. Namun yang lebih berbahaya sedang terjadi di bawah permukaan, Krisis fiskal perlahan berubah menjadi krisis identitas.

Awalnya masalahnya sederhana, Negara kekurangan uang. Tetapi semakin lama, banyak orang mulai bertanya: Mengapa kita kekurangan uang? Dan jawaban yang muncul semakin sering mengarah ke tempat yang sama. Bukan ke desa-desa Prancis, Bukan ke petani, Bukan ke tentara. Melainkan ke kota-kota dagang yang tersebar di Eropa.

Mengapa Genoa dan Venezia meminjamkan uang kepada kerajaan? Mengapa Amsterdam menentukan kredit Eropa? Mengapa para bankir memperoleh kekayaan tanpa pernah mengolah tanah atau mengangkat senjata? Dan dari pertanyaan itu lahir sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada krisis fiskal.

Di Genoa, Di Venezia, Di Amsterdam dan berbagai kota Jerman yang kaya dari perdagangan dan kredit. Mereka kecil, Mereka tidak memiliki tentara besar, Mereka tidak memiliki tanah luas, Mereka tidak memiliki populasi seperti Prancis. Namun mereka memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Prancis. Mereka mengendalikan uang, mereka mengendalikan kredit dan jaringan perdagangan.

Mereka mengendalikan surat wesel yang memungkinkan transaksi berlangsung dari Laut Baltik hingga Mediterania. Bagi para bankir Genoa, seorang raja hanyalah debitur besar. Bagi para pedagang Amsterdam, perang hanyalah risiko yang harus dihitung dalam harga asuransi. Bagi mereka, dunia adalah jaringan transaksi, tetapi bagi banyak orang Prancis, dunia adalah bangsa.

Dan benturan dua cara pandang itu mulai terasa. Prancis mulai melihat dirinya sebagai negeri yang menghasilkan kekuatan. Mereka memiliki petani yang bekerja, mereka memiliki tentara yang berperang, mereka memiliki rakyat yang membayar pajak. Tetapi mereka merasa nilai dari semua itu ditentukan di tempat lain.

Sebagian pertanyaan itu masuk akal, sebagian lagi merupakan kemarahan yang mencari sasaran. Tetapi sejarah jarang membedakan keduanya. Yang penting adalah perasaan yang mulai tumbuh, Bahwa dunia lama tidak adil. Bahwa republik-republik dagang hidup dari sesuatu yang tidak mereka ciptakan sendiri.

Bahwa ada orang-orang yang memperoleh kekayaan tanpa pernah mengangkat senjata, tanpa pernah membajak sawah, tanpa pernah membayar harga yang harus dibayar bangsa besar. Kemarahan itu tidak hanya bersifat ekonomi, Ia mulai menjadi moral, bahkan emosional.

Dalam berbagai salon Paris, muncul dua gambaran yang saling berlawanan. Di satu sisi berdiri petani Prancis, yang bekerja, yang menghasilkan makanan, yang membayar pajak. Di sisi lain berdiri bankir-bankir kota dagang, yang memegang surat kredit, yang memperdagangkan utang, yang memperoleh bunga. Yang tampak kaya tanpa pernah menyentuh tanah.

Gambaran itu tidak selalu akurat, Namun ia sangat kuat secara politik. Karena manusia lebih mudah marah kepada orang yang terlihat memperoleh keuntungan daripada kepada sistem yang menciptakan keuntungan tersebut.

Maka perlahan-lahan, Krisis fiskal berubah menjadi sesuatu yang lebih besar. Pertanyaan tentang utang berubah menjadi pertanyaan tentang kedaulatan. Pertanyaan tentang bunga berubah menjadi pertanyaan tentang kehormatan nasional.

Pertanyaan tentang kredit berubah menjadi pertanyaan tentang siapa yang berhak memimpin Eropa. Dan ketika sebuah bangsa mulai melihat persoalan ekonomi sebagai persoalan martabat, kompromi menjadi semakin sulit.

Di titik inilah gagasan Quesnay mulai kehilangan daya tarik. Produksi membutuhkan kesabaran, Turgot juga mulai kehilangan pendengarnya, reformasi membutuhkan pengorbanan. Tetapi bangsa yang marah biasanya tidak mencari kesabaran.

Bersambung...


(miq/miq)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |