Pengusaha Sawit RI Sampai Datangkan Serangga dari Tanzania, Untuk Apa?

2 hours ago 1

Depok, CNBC Indonesia - Produksi kelapa sawit nasional dilaporkan mengalami stagnasi dalam lima tahun terakhir dan diproyeksikan masih akan berlanjut hingga 2026. Kondisi ini menjadi tantangan serius di tengah permintaan yang terus meningkat, sehingga mendorong industri mencari cara meningkatkan produktivitas tanpa membuka lahan baru.

Salah satu langkah yang ditempuh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) ialah dengan mendatangkan serangga penyerbuk dari Tanzania, untuk mendongkrak hasil produksi kelapa sawit nasional.

Media Relations GAPKI Mochamad Husni menjelaskan, tantangan utama industri sawit saat ini berada pada sisi produktivitas. Karena itu, GAPKI memperkuat kerja sama internasional, salah satunya dengan Tanzania, untuk mendatangkan serangga penyerbuk yang dinilai lebih efektif.

"Nah tantangan di produktivitas itu kita jawab dengan, pertama, kita terus meningkatkan kerjasama untuk mendorong peningkatan produktivitas industri sawit saat ini. Yang bisa saya highlight di sini itu, misalnya belum lama ini kami bekerja sama dengan Tanzania untuk mendatangkan serangga penyerbuk," kata Husni dalam Workshop Jurnalis Program Biodiesel Sawit 2026 di Depok, Jawa Barat, Kamis (5/2/2026).

Menurut Husni, serangga penyerbuk memegang peranan penting dalam meningkatkan hasil panen kelapa sawit. Serangga penyerbuk dari Tanzania diyakini mampu bekerja lebih optimal dibandingkan serangga yang saat ini digunakan di Indonesia.

"Serangga penyerbuk itu lebih efektif untuk meningkatkan produktivitas di tumbuhan kelapa sawit," ujarnya.

Ia mengakui, serangga penyerbuk yang ada saat ini sudah mulai menurun produktivitasnya. Karena itu, opsi mendatangkan serangga dari luar negeri dipilih sebagai solusi.

"Mudah-mudahan ini lebih efektif, karena kalau kata teman-teman sawit, itu serangga penyerbuk (yang ada saat ini) sudah kurang produktif. Jadi didatangkan serangga yang dari luar negeri, yakni Tanzania," ucap dia.

Selain serangga penyerbuk, GAPKI juga bekerja sama dalam mendatangkan tanaman dari Tanzania.

"Nggak cuma itu, kita juga bekerjasama dari sisi mendatangkan tanaman-tanaman dari Tanzania," kata Husni.

Berdasarkan rencana, lanjutnya, serangga penyerbuk dari Tanzania akan mulai didatangkan pada Maret 2026 dan direalisasikan secara bertahap selama dua tahun.

Langkah ini diharapkan bisa mulai diterapkan di sejumlah perkebunan sawit sebagai jawaban atas tantangan produktivitas, khususnya dalam mendukung implementasi program biodiesel B40, maupun program mandatori biodiesel dengan tingkatan yang lebih tinggi lagi, yakni B50.

"Intinya kami akan menjawab tantangan tentang produktivitas itu di B40. Kita harap ini bulan Maret sudah mulai di beberapa perkebunan," ujarnya.

Di balik upaya mendatangkan serangga penyerbuk, Husni menjelaskan, stagnasi produksi sawit nasional tidak terlepas dari usia tanaman yang sudah memasuki fase tua.

"Mengenai stagnasi sebetulnya kalau kita lihat di Indonesia, kita kan sebetulnya sudah masuk dalam siklus yang kedua. Jadi di Astra Agro itu kita sudah mulai tanam tanaman tua, yang sudah 25 tahun ke atas, sehingga produktivitasnya menjadi menurun sekarang ini," ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat produktivitas sawit nasional tidak lagi tumbuh signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

"Nah itu yang kemudian mengakibatkan produktivitasnya menjadi ber-stagnan, itu yang sudah terjadi dari beberapa tahun, sudah sejak 5 tahun lalu terjadi stagnasi," ujarnya.

Untuk menjawab persoalan usia tanaman tersebut, GAPKI mendorong program peremajaan atau replanting sebagai solusi jangka menengah dan panjang.

"Tentu saja kita kita menggenjot program replanting karena. pada hari ini replanting itu jadi sesuatu yang sangat penting, mengingat kita sudah masuk di siklus yang kedua di Indonesia. Jadi sudah mulai terjadi penurunan produksi," terang dia.

Melalui program replanting, industri sawit berharap produktivitas dapat kembali meningkat.

Ia menambahkan, sejumlah perusahaan sawit kini mulai mengganti tanaman-tanaman tua dengan tanaman baru melalui program replanting.

"Itu makanya di beberapa perusahaan termasuk di kami sendiri yang sekarang dilakukan itu adalah bagaimana mengganti tanaman-tanaman tua itu dengan tanaman-tanaman yang baru, dalam program replanting itu sendiri," pungkas Husni.

Workshop Jurnalis Program Biodiesel Sawit 2026 di Depok, Jawa Barat, Kamis (5/2/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)Foto: Workshop Jurnalis Program Biodiesel Sawit 2026 di Depok, Jawa Barat, Kamis (5/2/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Workshop Jurnalis Program Biodiesel Sawit 2026 di Depok, Jawa Barat, Kamis (5/2/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

(dce)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |