Jakarta, CNBC Indonesia - Penelitian terbaru mengungkap alasan roti yang selama ini kerap dianggap penyebab kenaikan berat badan. Alasannya bukan sekadar soal kalori, tapi juga bagaimana tubuh memproses karbohidrat.
Studi yang dipimpin tim dari Osaka Metropolitan University menemukan, konsumsi roti berbahan gandum dapat meningkatkan berat badan dan lemak tubuh, meski jumlah kalori yang dikonsumsi tetap relatif sama.
Penelitian ini dilakukan pada tikus laboratorium untuk melihat bagaimana pola makan berbasis roti mempengaruhi metabolisme. Hasilnya menunjukkan, konsumsi karbohidrat tinggi seperti roti justru menurunkan pengeluaran energi tubuh.
Artinya, tubuh cenderung membakar lebih sedikit kalori dan lebih banyak menyimpan energi dalam bentuk lemak.
"Temuan ini menunjukkan bahwa kenaikan berat badan bukan semata karena efek khusus gandum, melainkan karena preferensi tinggi terhadap karbohidrat dan perubahan metabolisme yang menyertainya," kata peneliti nutrisi Shigenobu Matsumura dikutip dari Science Alert, Selasa (21/4/2026)
Dalam eksperimen, tikus diberi pilihan antara pakan sehat berbasis sereal dengan camilan seperti roti gandum, tepung gandum panggang, atau tepung beras. Hasilnya, tikus lebih memilih makanan tinggi karbohidrat tersebut.
Pilihan ini berdampak pada peningkatan berat badan dan jaringan lemak, terutama pada tikus jantan. Analisis lebih lanjut menunjukkan, perubahan ini bukan disebabkan oleh makan berlebihan atau kurang aktivitas, melainkan karena jenis makanannya.
Pada kelompok yang mengonsumsi tepung gandum, jumlah kalori yang dibakar lebih rendah, sementara gen yang berperan mengubah karbohidrat menjadi lemak menjadi lebih aktif. Tapi, ketika pola makan tikus dikembalikan ke diet awal yang lebih seimbang, kenaikan berat badan berhenti dan kondisi metabolisme kembali normal.
Temuan ini pun memperkuat jenis makanan yang dikonsumsi dapat memengaruhi cara tubuh mengolah energi, tidak hanya jumlah kalorinya. Namun, peneliti menekankan, studi ini masih terbatas pada hewan, sehingga belum bisa sepenuhnya disimpulkan berlaku sama pada manusia dan penelitian lanjutan pada manusia masih diperlukan.
Ke depan, tim peneliti juga ingin mengkaji lebih dalam bagaimana jenis karbohidrat lain, seperti biji-bijian utuh dan makanan tinggi serat, serta kombinasi dengan protein dan lemak, mempengaruhi respons metabolisme tubuh.































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429811/original/069766600_1764645013-000_32U79NY.jpg)









:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5342854/original/002615400_1757402192-barba.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5145677/original/009587200_1740728790-20250228BL_HTS_Ratu_Tisha_20.JPG)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5457703/original/089294400_1767016757-20251229IQ_Persija_vs_Bhayankara_FC-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427463/original/032259100_1764389259-Tomas_Trucha_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4890948/original/095825900_1720887428-Timnas_Indonesia_-_Ilustrasi_Logo_Timnas_Indonesia_dan_Timnas_Day_copy.jpg)