IMF Ingatkan Dampak Perang Sangat Berbahaya: Merembet ke Dapur dan SPBU

9 hours ago 1

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

16 April 2026 10:35

Jakarta, CNBC Indonesia- Konflik geopolitik kembali mengubah peta ekonomi dunia. Ketika jalur pelayaran terganggu dan pusat produksi energi masuk area rawan, dampaknya cepat menjalar ke dua ruang paling sensitif, dapur rumah tangga dan pompa bahan bakar.

Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan terbarunya World Economic Outlook April 2026 Chapter 1 mengisahkan tekanan baru itu.

Energi naik lebih dulu, lalu pangan ikut terdorong oleh biaya pupuk, logistik, dan distribusi.

Asumsi harga komoditas global memperlihatkan indeks energi melonjak dari 84,8 pada kuartal IV-2025 menjadi 95,8 pada kuartal I-2026, lalu menembus 119,1 pada kuartal II-2026.

Kenaikan ini menjadi yang paling tajam dibanding kelompok komoditas lain. Setelah itu harga diproyeksikan masih tinggi di 113,8 pada kuartal III dan 109,4 pada kuartal IV-2026 sebelum mulai mereda pada 2027. Pasar memberi sinyal bahwa tekanan pasokan belum selesai dalam waktu dekat.

Energi

Di pasar riil, minyak Brent tahun 2026 diproyeksikan rata-rata US$82,22 per barel. Angka itu lebih tinggi 21,4% dari proyeksi sebelumnya karena gangguan produksi dan transportasi di Timur Tengah. Pada 2027 harga diperkirakan turun ke US$75,97 per barel. Namun jalur penurunan ini rapuh. Dalam skenario buruk, harga dapat kembali ke sekitar US$100. Jika konflik membesar, rata-rata 2026 bisa naik ke US$110 dan 2027 ke US$125.

Masalah utama ada di distribusi. Selat Hormuz tetap menjadi simpul penting energi dunia. Saat lalu lintas kapal terganggu, biaya asuransi naik, pengiriman tertunda, dan premi risiko langsung masuk ke harga minyak serta gas.

Polanya lama dan selalu berulang, konflik meningkat, suplai tersendat, inflasi ikut bangkit.

Gas alam bahkan lebih peka. Harga gas Eropa di hub TTF diperkirakan bertahan di sekitar US$7,5 per MMBtu hingga 2031. Di Amerika Serikat, Henry Hub berada di kisaran US$3,5 per MMBtu. Jika konflik berlanjut, harga gas Eropa dan Asia berpotensi naik lebih tinggi karena pasar LNG bergantung pada pengiriman laut dan kapasitas pengganti yang terbatas.

Pangan

Dampak berikutnya terasa di pangan. Energi mahal berarti pupuk mahal. Sebagian besar pupuk nitrogen memakai gas alam sebagai bahan baku. Saat gas naik, biaya tanam ikut naik. Data proyeksi menunjukkan indeks pangan global naik dari 93,3 pada kuartal IV-2025 menjadi 99,2 pada kuartal I-2026, lalu 103,6 pada kuartal II-2026. Tekanan ini bertahan sepanjang tahun sebelum cenderung stabil pada 2027.

Secara tahunan, harga pangan global diperkirakan naik 6% pada 2026. Ini terasa langsung di banyak negara karena harga gandum, jagung, minyak nabati, hingga beras sangat dipengaruhi ongkos angkut dan biaya input pertanian. Jika kapal memutar rute lebih jauh, pupuk terlambat datang, atau cuaca buruk datang bersamaan, harga di pasar ritel dapat bergerak lebih cepat dari angka global.

Negara berkembang menjadi titik paling rawan. Banyak negara masih bergantung pada impor energi dan pangan. Saat dua tagihan ini naik bersamaan, ruang fiskal menyempit. Laporan tersebut memperkirakan negara berpendapatan rendah pengimpor energi berisiko kehilangan pertumbuhan kumulatif 0,5 poin persentase pada 2026-2027. Dalam kondisi ekstrem, tekanan harga dapat memicu gejolak sosial.

Ada lapisan cerita lain, teknologi. Survei perusahaan di Amerika Serikat menunjukkan adopsi kecerdasan buatan di sektor pertanian masih rendah. Penggunaan AI dalam enam bulan terakhir baru 5,1%, jauh di bawah sektor informasi yang mencapai 41,2%. Saat dunia membutuhkan lompatan produktivitas pangan, sektor pertanian global belum sepenuhnya memakai alat efisiensi baru.

Logam industri dan logam mulia memberi sinyal tambahan. Indeks logam industri naik ke 116,2 pada kuartal I-2026 dan bertahan tinggi setelahnya, menandakan kebutuhan infrastruktur serta transisi energi masih kuat. Sementara logam mulia melesat ke 192,5 lalu 202,2 pada pertengahan 2026. Investor biasanya mencari aset aman ketika perang memanjang dan arah inflasi kabur.

Lalu merambat, indeks risiko geopolitik regional dekade 2020-an naik tajam di hampir semua kawasan. Eropa mencapai 225,79, Asia-Pasifik 219,04, dan Timur Tengah-Afrika 189,15. Dunia sedang berada dalam dekade yang lebih tegang dibanding dua dekade sebelumnya.

Kesimpulannya sederhana. Perang hari ini jarang berhenti di medan tempur. Ia masuk ke dapur lewat harga pangan, masuk ke SPBU lewat energi, lalu menyusup ke pertumbuhan ekonomi lewat inflasi.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |