IHSG Koreksi dan Asing Jualan, Ini Saham yang Masih Layak Dikoleksi

13 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 0,68% ke posisi 7.623,59 pada perdagangan Rabu (15/04). 

Pergerakan indeks ditopang oleh penguatan saham ASII (+2,44%), DSSA (+1,52%), dan MDKA (+4,36%) sebagai penopang utama. Sebaliknya, pelemahan pada BBCA (-2,96%), SRAJ (-13,82%), dan BBRI (-1,73%) menjadi penekan kinerja indeks. 

Aksi jual investor asing masih berlanjut dengan nilai jual bersih mencapai Rp1,23 triliun di pasar reguler dan Rp1,16 triliun di seluruh pasar. 

Secara sektoral, enam dari sebelas sektor ditutup di zona merah, dengan sektor kesehatan mencatat penurunan terdalam sebesar 2,81%, sementara sektor transportasi mencatat kenaikan tertinggi 3,45%.

Dari pasar global, bursa saham Amerika Serikat ditutup bervariasi. Indeks Dow Jones turun 0,15% ke level 48.463, sedangkan S&P 500 naik 0,80% ke 7.022 dan Nasdaq menguat 1,60% ke 24.016. Di sisi geopolitik, pejabat Gedung Putih mengindikasikan bahwa pembahasan putaran kedua negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran tengah berlangsung. 

Namun demikian, sentimen tersebut belum tercermin pada minat investor terhadap pasar domestik, terlihat dari pelemahan indeks ETF EIDO sebesar 0,97% serta MSCI Indonesia sebesar 1,27%.

Sementara itu, pemerintah melalui Kepmen ESDM Nomor 144.K/MB.01/MEM.B/2026 melakukan penyesuaian formula Harga Patokan Mineral (HPM) untuk komoditas nikel dan bauksit yang berlaku mulai 15 April. 

Kebijakan ini bertujuan mengoptimalkan penerimaan negara sekaligus menyesuaikan dengan dinamika harga global. Perubahan mencakup penambahan parameter dalam penentuan harga nikel, yang kini tidak hanya mempertimbangkan kadar nikel tetapi juga mineral ikutan seperti besi, kobalt, dan krom, serta penyesuaian faktor koreksi. 

Selain itu, formula harga bauksit kini memasukkan parameter reaktif silika, dan satuan harga diubah dari dry metric ton (DMT) menjadi wet metric ton (WMT). Kebijakan ini diperkirakan memberikan dampak positif bagi pelaku usaha di sektor hulu, namun meningkatkan tekanan bagi industri pengolahan di sisi hilir.

Dari sisi korporasi, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menetapkan dividen final sebesar Rp335 per saham dalam RUPST. Dengan demikian, total dividen tahun buku 2025 mencapai Rp458 per saham atau setara Rp881,5 miliar, mencerminkan rasio pembagian laba sebesar 60% dari laba bersih. 

Sebelumnya, perseroan telah menyalurkan dividen interim sebesar Rp123 per saham senilai Rp236 miliar pada Oktober 2025. Sisa dividen sebesar Rp647 miliar dijadwalkan akan dibayarkan pada 13 Mei kepada pemegang saham. Adapun laba yang tidak dibagikan akan digunakan sebagai laba ditahan untuk mendukung program penanaman kembali (replanting).

Rekomendasi Saham Hari Ini dari Mega Capital Sekuritas

  • ADRO - Buy 2480-2500 | TP 2550-2600 | SL 2360

[Gambas:Produk Investasi by Investasiku]

  • ADMR - Buy 1935-1950 | TP 2000-2050 | SL 1840

[Gambas:Produk Investasi by Investasiku]

  • IATA - Buy 88-90 | TP 93-96 | SL 83

[Gambas:Produk Investasi by Investasiku]

  • CTRA - Buy 745-755 | TP 780-790 | SL 710

[Gambas:Produk Investasi by Investasiku]

  • ASLC - Buy 80-82 | TP 84-86 | SL 75

[Gambas:Produk Investasi by Investasiku]

Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan berinvestasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi. Selamat berinvestasi secara bijak.

(ayh/ayh)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |