REVIEW SEPEKAN
Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
04 July 2026 09:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah dunia menutup akhir pekan ini dengan penguatan tipis. Kenaikan tersebut menunjukkan pasar masih bergerak hati-hati setelah harga minyak sempat turun tajam pada pekan sebelumnya.
Mengutip data Refinitiv, harga minyak mentah acuan Brent pada perdagangan Jumat (3/7/2026) ditutup menguat 0,45% ke level US$72,12 per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah acuan West Texas Intermediate (WTI) juga naik 0,13% ke posisi US$68,78 per barel.
Secara mingguan, harga minyak Brent tercatat menguat 0,45%. Senada, harga minyak WTI juga naik tipis 0,13%.
Kenaikan ini memang tidak besar. Namun, pergerakan tersebut terjadi setelah harga minyak dunia sempat mengalami penurunan tajam pada pekan sebelumnya.
Pada pekan lalu, harga minyak mentah dunia merosot dalam karena pasar mulai menilai gangguan pasokan dari Timur Tengah tidak akan separah yang sempat dikhawatirkan. Arus kapal tanker yang kembali melintasi Selat Hormuz juga ikut meredakan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.
Meski begitu, pasar minyak belum benar-benar lepas dari risiko. Harga minyak yang kembali naik tipis pada akhir pekan ini menunjukkan investor masih mencermati perkembangan keamanan di kawasan Timur Tengah, terutama jalur pelayaran penting seperti Selat Hormuz.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling penting dalam perdagangan minyak dunia. Jalur ini merupakan pintu keluar utama bagi pasokan minyak dari kawasan Teluk. Karena itu, setiap gangguan keamanan di sekitar kawasan tersebut bisa langsung memicu kekhawatiran terhadap distribusi minyak global.
Dalam beberapa pekan terakhir, kekhawatiran pasar sempat mereda setelah lalu lintas kapal tanker mulai membaik. Hal ini membuat harga minyak turun dari level tinggi sebelumnya.
Dari sisi pasokan, produksi minyak Kuwait melonjak menjadi 1,65 juta barel per hari pada Juni, dari sekitar 580 ribu barel per hari pada Mei. Kenaikan ini terjadi setelah Kuwait meningkatkan ekspor pasca-kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran.
Pada saat yang sama, sedikitnya lima kapal tanker raksasa yang mengangkut sekitar 10 juta barel minyak Arab Saudi telah keluar dari Selat Hormuz. Langkah ini memberi sinyal bahwa arus distribusi minyak dari kawasan Teluk mulai bergerak lebih lancar.
Saudi Aramco juga mengubah sebagian skema penjualannya ke harga spot guna mempercepat distribusi minyak ke pasar Asia. Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa pasokan minyak ke pasar global mulai membaik setelah sempat dibayangi risiko gangguan dari kawasan Timur Tengah.
Namun, kondisi belum sepenuhnya kembali normal. Aktivitas pelayaran memang mulai pulih, tetapi pasar masih berhati-hati karena situasi geopolitik di sekitar Timur Tengah masih sulit diprediksi.
Kenaikan harga minyak pada akhir pekan ini juga memperlihatkan bahwa pasar sedang berada dalam fase mencari arah baru. Di satu sisi, risiko gangguan pasokan mulai menurun sehingga tekanan terhadap harga minyak tidak sebesar sebelumnya.
Di sisi lain, setiap kabar baru dari kawasan konflik masih bisa membuat harga minyak kembali bergerak naik. Apalagi, pasar minyak sangat sensitif terhadap isu pasokan, terutama ketika menyangkut jalur utama perdagangan energi dunia.
Harga minyak yang berada di kisaran US$60-an hingga US$70-an per barel juga tetap menjadi perhatian besar bagi ekonomi global. Sebab, minyak mentah merupakan salah satu komoditas utama yang berpengaruh langsung terhadap harga energi, biaya logistik, inflasi, hingga daya beli masyarakat.
Bagi banyak negara, harga minyak yang lebih rendah dibandingkan periode ketika sempat berada di sekitar US$100 per barel menjadi kabar baik. Tekanan inflasi dari sisi energi bisa lebih terkendali, sehingga beban masyarakat dan dunia usaha tidak seberat ketika harga minyak melonjak tajam.
Namun, kenaikan tipis pada pekan ini menjadi pengingat bahwa harga minyak belum sepenuhnya stabil. Selama risiko geopolitik masih membayangi dan jalur pasokan global belum benar-benar normal, pergerakan harga minyak berpotensi tetap bergejolak.
Ke depan, pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan di Timur Tengah, arus kapal tanker di Selat Hormuz, serta sinyal permintaan energi global.
Jika lalu lintas pengiriman minyak terus membaik dan tidak ada gangguan besar baru, harga minyak berpeluang tetap tertahan. Namun, apabila muncul insiden keamanan baru atau kekhawatiran pasokan kembali meningkat, harga minyak bisa kembali mendapat dorongan naik.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4780552/original/013117000_1711071915-20240321BL_Kualifikasi_Piala_Dunia_2026_Timnas_Indonesia_Vs_Vietnam_Stok_49.JPG)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522153/original/020711000_1772719961-Belum_waktunya_menyerah__penggawa______________DUBFC__BantenWarriors__BuiltForGlory__1_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5249375/original/065795600_1749635323-viet_3.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5449843/original/037142600_1766116592-teja_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5320148/original/037889300_1755588308-IDN_3825.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522156/original/054211700_1772720765-Half_Time________PERSIJAP_JEPARA_0_-_0_PERSIS_SOLO_persijapjepara__laskarkalinyamat__ukirsemangatbar.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523027/original/000294000_1772785878-5.jpg)





