REVIEW SEPEKAN
Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
04 July 2026 07:44
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia menutup perdagangan akhir pekan ini di zona hijau. Logam mulia kembali menguat setelah data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang melemah membuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat ikut mereda.
Berdasarkan data Refinitiv, harga emas dunia pada perdagangan Jumat (3/7/2026) ditutup menguat 1,26% ke posisi US$4.174,9 per troy ons.
Kenaikan tersebut sekaligus menjadi penguatan beruntun dalam tiga hari perdagangan terakhir. Secara mingguan, harga emas dunia juga naik 2,12%.
Kinerja ini menjadi penting karena berhasil memutus tren pelemahan emas dunia yang sudah berlangsung selama empat pekan berturut-turut.
Dorongan utama datang dari data tenaga kerja AS yang lebih lemah dari perkiraan, sehingga meredam ekspektasi pasar bahwa The Fed akan segera menaikkan suku bunga.
Data yang dirilis pada Kamis menunjukkan non-farm payrolls AS hanya bertambah 57.000 pekerjaan pada Juni 2026. Angka ini jauh di bawah perkiraan yang memperkirakan penambahan 110.000 pekerjaan.
Data tersebut memberi sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS mulai kehilangan tenaga. Kondisi ini membuat pelaku pasar menilai The Fed memiliki ruang lebih besar untuk menahan diri sebelum kembali menaikkan suku bunga.
Han Tan, Chief Market Analyst Bybit, menilai reli emas kali ini didorong oleh perlambatan tajam dalam perekrutan tenaga kerja AS bulan lalu. Menurutnya, reaksi kenaikan harga emas cukup wajar untuk saat ini, karena pasar mulai mengurangi taruhan terhadap peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September sebesar sekitar 54%. Angka tersebut turun dari 66% sebelum data tenaga kerja AS dirilis.
Untuk harga emas, meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi sentimen positif. Sebab, emas tidak memberikan imbal hasil atau yield. Ketika suku bunga naik, daya tarik emas biasanya berkurang karena investor cenderung melirik aset lain yang memberikan imbal hasil lebih tinggi.
Sebaliknya, ketika peluang kenaikan suku bunga menurun, biaya peluang memegang emas ikut berkurang. Hal ini membuat emas kembali lebih menarik di mata investor.
Selain faktor suku bunga, pelemahan dolar AS juga ikut menopang harga emas. Dolar AS berada di jalur pelemahan mingguan terbesar sejak April setelah rilis data tenaga kerja tersebut.
Pelemahan dolar membuat emas yang dihargakan dalam mata uang AS menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Kondisi ini biasanya dapat membantu meningkatkan permintaan emas di pasar global.
Sentimen positif lainnya datang dari pembelian emas oleh bank sentral. Data World Gold Council yang dirilis pada Kamis menunjukkan bank sentral dunia menambah cadangan emas bersih sebesar 41 metrik ton pada Mei.
Pembelian oleh bank sentral masih menjadi salah satu penopang penting bagi harga emas dalam jangka panjang. Tan menilai bank sentral diperkirakan tetap menjadi pilar permintaan emas ke depan, meski sebagian bank sentral belakangan juga menjual sebagian kepemilikan emasnya untuk membantu menjaga stabilitas mata uang masing-masing.
Dari pasar fisik, permintaan emas di India melemah pada pekan ini karena harga kembali naik. Sementara itu, minat beli di China sedikit membaik.
Kondisi tersebut menunjukkan pasar emas masih ditopang oleh kombinasi sentimen global. Di satu sisi, data tenaga kerja AS yang melemah dan dolar yang turun memberi ruang bagi emas untuk bangkit. Di sisi lain, harga yang sudah tinggi membuat permintaan fisik di beberapa negara cenderung tertahan.
Untuk perdagangan ke depan, arah emas masih akan banyak ditentukan oleh data ekonomi AS, terutama inflasi dan pasar tenaga kerja. Jika data ekonomi terus melemah, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed bisa kembali turun dan memberi tenaga tambahan bagi emas.
Namun, jika inflasi kembali memanas atau pejabat The Fed memberi sinyal hawkish, ruang kenaikan emas bisa kembali terbatas.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4780552/original/013117000_1711071915-20240321BL_Kualifikasi_Piala_Dunia_2026_Timnas_Indonesia_Vs_Vietnam_Stok_49.JPG)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522153/original/020711000_1772719961-Belum_waktunya_menyerah__penggawa______________DUBFC__BantenWarriors__BuiltForGlory__1_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5249375/original/065795600_1749635323-viet_3.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5449843/original/037142600_1766116592-teja_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5320148/original/037889300_1755588308-IDN_3825.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522156/original/054211700_1772720765-Half_Time________PERSIJAP_JEPARA_0_-_0_PERSIS_SOLO_persijapjepara__laskarkalinyamat__ukirsemangatbar.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523027/original/000294000_1772785878-5.jpg)





