Dari Konvensional ke Listrik: Ini yang Perlu Diketahui Pengguna Baru

2 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Perkembangan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia dinilai belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan pengguna. Minimnya pemahaman terhadap karakter dan fitur kendaraan listrik disebut menjadi salah satu faktor yang kerap memicu kesalahan persepsi di masyarakat, terutama saat terjadi insiden di jalan.

Founder sekaligus Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu menilai, bahwa pola adaptasi masyarakat Indonesia terhadap teknologi baru masih cenderung instan. Banyak pengguna tidak mempelajari fitur secara menyeluruh, melainkan mengandalkan kebiasaan lama saat menggunakan kendaraan konvensional.

"EV merupakan teknologi baru setelah kita mengenal kendaraan berbasis mesin pembakaran," ujar Jusri kepada CNBC Indonesia, belum lama ini.

Di Indonesia, kendaraan listrik yang beredar juga wajib melalui proses homologasi sebelum dipasarkan. Proses ini mencakup pemenuhan standar kompatibilitas elektromagnetik (EMI/EMC), yang merujuk pada regulasi internasional seperti UNECE R10 (standar Eropa) dan AIS-004 yang juga diterapkan di India.

Melalui standar tersebut, seluruh sistem kelistrikan dan elektronik kendaraan-mulai dari PCU/VCU/ECU, Battery Management System (BMS), inverter, motor, hingga sistem komunikasi CAN-diuji untuk memastikan memiliki ketahanan terhadap gangguan elektromagnetik eksternal, menjaga emisi elektromagnetik tetap dalam ambang batas aman, serta mampu beroperasi normal dalam berbagai kondisi nyata.

Pengujian bahkan dilakukan dengan mensimulasikan paparan lingkungan dengan sumber elektromagnetik kuat, seperti jalur kereta listrik, jaringan transmisi tegangan tinggi, gardu induk, hingga kawasan industri.

Dengan demikian, kendaraan yang telah lolos sertifikasi dan memperoleh izin edar secara prinsip dinyatakan aman terhadap gangguan elektromagnetik dalam kondisi umum, dan *tidak akan mengalami gangguan* seperti mati mendadak hanya karena paparan medan elektromagnetik yang lazim, termasuk di perlintasan kereta api.

Dalam kasus kendaraan berhenti di lintasan rel kereta yang sempat terjadi beberapa waktu lalu, misalnya, penyebabnya telah dibuktikan tidak berkaitan dengan sistem keamanan EV.

Jusri menekankan anggapan mengenai pengaruh medan magnet di rel kereta api terhadap kendaraan listrik merupakan mitos yang tidak didukung oleh penelitian ilmiah.

"Ada anggapan medan magnet di rel kereta bisa mengganggu kendaraan. Berdasarkan berbagai penelitian, itu tidak cukup kuat untuk mengacaukan sistem kendaraan, baik mobil konvensional maupun listrik," jelasnya.

Jusri justru mengapresiasi tindakan pengemudi yang memilih menyelamatkan diri dibanding mempertahankan kendaraan.

"Keputusan untuk keluar dari kendaraan dan menyelamatkan diri itu sudah tepat. Keselamatan jiwa harus menjadi prioritas utama," tegasnya.

Dia juga mengingatkan bahwa setiap kendaraan memiliki kelemahan, termasuk EV, namun risiko tersebut bisa diminimalkan jika pengguna memiliki pemahaman yang memadai.

"Kelemahan kendaraan itu selalu ada. Tapi bisa diminimalkan kalau pengguna memiliki awareness dan memahami karakter kendaraannya," pungkas Jusri.

(bul/bul)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |