WNI Masuk Pasukan Elit AS, Terjebak di Perang Dahsyat-Nyaris Tewas

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Bergabung dengan tentara asing tidak selalu berarti kehormatan dan kebanggaan. Dalam banyak kasus, itu justru berarti menempatkan hidup di garis paling depan kematian. Hal itu dialami Sudirman Boender, pria asal Yogyakarta yang pada masa Perang Dunia II (1939-1945) terseret masuk ke mesin perang Amerika Serikat (AS).

Saat perang berlangsung, Boender adalah mahasiswa asal Indonesia yang berada di AS. Namun kebijakan wajib militer membuat dia ikut direkrut. Dia tidak hanya menjadi tentara biasa. Dari proses seleksi dan latihan, Boender terpilih sebagai salah satu dari 20 orang terbaik yang bergabung dalam Underwater Demolition Team (UDT).

UDT merupakan pasukan yang disiapkan untuk operasi khusus bawah air, pembukaan jalur pendaratan, dan misi-misi laut paling berbahaya. Menurut situs NAVY SEAL Museum, UDT inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya pasukan elit Amerika Serikat, NAVY SEAL.

Dari latar inilah, Boender kemudian terlibat dalam salah satu pertempuran paling berdarah dalam sejarah Perang Dunia II, yakni Pertempuran Iwo Jima.

Iwo Jima adalah pulau kecil strategis milik Jepang di Samudra Pasifik yang berfungsi sebagai benteng pertahanan udara dan laut. Pulau ini dipenuhi bunker, lorong bawah tanah, dan sistem pertahanan berlapis yang dirancang untuk perang jangka panjang.

"Tujuh puluh dua hari sebelum hari-H, Iwo Jima dimandikan jutaan ton bahan peledak. Rupanya curahan mesiu itu tak banyak artinya. Pulau ini terdiri dari batu karang, dan pertahanan Jepang justru berada di bawahnya," kenang sang WNI, dikutip dari memoarnya berjudul Terhempas Prahara ke Pasifik: Kenangan Seorang Prajurit Bekas Anggota The Rainbow Division (1982).

Pada 19 Februari 1944, Boender berada di sana sebagai pasukan infanteri. Dia bertugas membuka jalan dan membentuk tumpuan pendaratan bagi pasukan berikutnya. Di atas kertas, operasi tampak berjalan mulus.

Pagi hari saat penyerbuan berlangsung sunyi. Laut tenang, langit cerah. Dalam waktu 45 menit, sekitar 7.000 pasukan berhasil mendarat tanpa perlawanan berarti. Namun suasana pantai terasa ganjil. Bukan pasir tropis, melainkan tangga beton bertingkat menyerupai amfiteater.

Di titik inilah nalurinya berkata lain.

"Kami mencurigai sesuatu yang luar biasa. Keheningan ini terasa seperti perangkap," ungkap Boender.

Dan perangkap itu nyata. Saat pasukan mulai mendaki dan posisi tak memungkinkan maju atau mundur, serangan datang serentak.

"Sekonyong-konyong, mortir besar dan kecil, senapan mesin, dan meriam pantai meledak bersamaan. Suaranya memekakkan telinga," ungkapnya.

Peluru datang dari segala arah. Semak-semak dan kebun berubah menjadi sarang senjata. Dalam kekacauan itu, Boender ikut terlibat dalam tembak-menembak jarak dekat. Ia berlindung di balik puing beton, menembak ke arah moncong senjata yang menyembul dari celah tanah dan bunker.

Ledakan demi ledakan memutus jarak pandang. Asap mesiu menutup langit pantai. Teriakan komando bercampur jeritan korban. Dia berpindah dari satu perlindungan ke perlindungan lain, menembak, tiarap, bangkit, lalu menembak lagi. Begitu seterusnya. 

Tank terbakar. Kapal pendarat rusak. Pantai berubah menjadi puing dan lumpur darah. Di sekelilingnya, tubuh rekan-rekannya berguguran. Ada yang tumbang terkena peluru. Ada pula yang terbelah dua karena terkena mortir.

"Inilah pembantaian dan pemusnahan habis-habisan. Tak ada sejengkal tanah yang luput dari peluru, bom, mortir, atau ranjau. Sehelai rumput pun tak tersisa di pantai Iwo Jima. Puluhan jenis kengerian lain sampai sekarang masih mendirikan bulu romaku, tak dapat kulukiskan dengan kata-kata," kenang Boender. 

Boender tercatat berada di antara hidup dan mati selama berminggu-minggu. Dia pun berulangkali nyaris tewas karena luka. Namun, dia termasuk tentara cukup beruntung sebab bisa selamat sampai pertempuran berakhir. Lima minggu kemudian, pasukan AS telah berhasil menguasai pulau. 

Setelah dari Iwojima, Boender sendiri kembali bertempur di wilayah lain sampai benar-benar berhenti saat perang usai pada pertengahan Agustus. Setelah dari AS, Boender kembali ke Indonesia dan disebut-sebut turut membina pasukan Kopassanda (Cikal bakal Kopassus TNI).

(mfa/mfa)

Read Entire Article
| | | |