Saham BRI, BNI dan Mandiri Ngebut, Ini Ramalan Harga Terbaru dari Analis

8 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham perbankan big caps di tengah kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih bumpy termasuk yang paling cepat pulih. Kira-kira seberapa jauh laju penguatannya?

Kami mengumpulkan rata-rata target dari sejumlah analis, terkhusus di saham perbankan big caps BUMN, yaitu PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

Berikut kami bahas satu per satu:

Saham BBRI

Saham BBRI terbilang menjadi salah satu yang paling terpukul ketika IHSG mengalami trading halt ke-dua pada 29 Januari 2026 lalu dengan koreksi sekitar 6% dalam sehari.

Namun, menariknya saham ini juga yang paling cepat pulih, kami menarik data harga sampai Senin kemarin (2/2/2026), saham BBRI sudah pulih dengan penguatan sekitar 16,54% dari titik terendah Kamis pekan lalu.

Secara teknikal, tren harga saham BBRI berbalik sideways, jika penguatan masih berlanjut resistance terdekat yang bisa diuji di level 4000.

Saham BBRI juga mayoritas dinilai overweight dari berbagai analis, setidaknya ada 31 analis merekomendasikan BUY dengan target rata-rata di Rp4.550 per saham, sementara sisanya ada lima analisis rekomendasi HOLD dan dua analis menyarankan jual dulu.

Kami menilai saham BBRI masih menarik untuk jangka menengah selama harga tidak turun dari level 3000. Saat ini, tanda-tanda akumulasi mulai terlihat, mengingat saham ini juga masih laggard, dengan valuasi bisa dibilang murah, tercermin dari PBV saat ini yang masih berada di kisaran -2 standar deviasi

Meskipun, tetap perlu diantisipasi risiko outflow yang masih membayangi, setidaknya sampai Mei 2026, seiring dengan perkembangan evaluasi free float oleh regulator guna mempertahankan kategori pasar Indonesia tetap di Emerging Market.

Saham BMRI

Berikutnya, ada saham BMRI yang kami nilai juga cukup cepat pemulihan-nya. Ketika Kamis pekan lalu IHSG terjun dalam, saham bank pelat merah ini turut kontraksi sekitar 10% menuju posisi Rp4.070 per lembar, tetapi itu hanya berselang sebentar karena pada sesi II langsung rebound dan ditutup menghijau 4%.

Ditarik dari level terendah secara intraday itu, saham BMRI sudah pulih kisaran 17%. Jika minat beli masih solid, target penguatan bisa menuju resistance terdekat di 5025.

Sejumlah analis juga masih menargetkan BUY untuk saham BMRI ini, kami memantau ada 28 analisis yang overweight dengan target harga secara rata-rata bisa naik ke Rp4.800 per saham.

BMRI juga mulai menarik untuk dilirik sebagai saham dividen play, meskipun sudah sempat membagikan dividen interim awal tahun ini.

Proyeksi EPS sepanjang 2025 BMRI akan berada di kisaran Rp540, dengan asumsi payout ratio seperti tahun lalu di 78%, akan menghasilkan dividen per lembar sekitar Rp421,2.

Dari jumlah itu sudah dikurangi Rp100 dari dividen interim, sehingga yang tersisa bisa mencapai Rp321,2 per lembar, kalau nilai ini dibagi dengan harga saham BMRI di Rp4.820 per lembar, akan menghasilkan cuan sebanyak 6,66%.

Saham BBNI

Terakhir, saham BBNI juga dinilai menarik dalam hal dividen, karena satu-satunya yang selalu membagikan dividen secara final, beda dengan yang lainnya yang sudah dipotong interim.

Jadi, menarik dinanti seberapa besar dividen yang potensi didapatkan investor secara full nanti.

Meskipun tahun 2025 laba BBNI merosot, tetapi kami menilai cuan dividen yang dihasilkan masih berada di kisaran 7%-8%. Semakin rendah harga saham yang dimiliki investor, tentu berpengaruh terhadap yield yang dihasilkan bisa semakin tinggi.

Kami menghitung, dengan potensi EPS BBNI pada 2025 sebesar Rp540,35 dan asumsi dividen payout ratio (DPR) kisaran 65%-70%, dividen per lembar yang akan dihasilkan sekitar Rp350. Dari sini jika dibagi dengan harga saham per Jumat lalu (30/1/2026) di Rp4.490 per lembar akan menghasilkan yield sekitar 7,79%.

Berkat prospek itu, sekitar 31 analisa rekomendasikan BUY saham bank pelat emas ini dengan target rata-rata bisa ke Rp5.129 per saham.

Secara teknikal, dengan pemulihan yang cepat sekitar 12% dari titik terendah pada 29 Januari lalu, saham BBNI paling dekat bisa menguji resistance dulu di sekitar Rp4.630 per lembar.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)

Read Entire Article
| | | |