Pesan Rahasia Bocor! AS Akui Tertekan di Dunia Muslim, RI Jadi Sorotan

3 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Posisi global Amerika Serikat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dokumen internal diplomatik yang bocor menunjukkan kekhawatiran serius bahwa citra Washington kian tertekan, terutama di dunia Muslim, seiring narasi pro-Iran yang semakin dominan di ruang publik.

Sejumlah kabel diplomatik Departemen Luar Negeri AS yang diperoleh Politico mengungkap bagaimana perang ini memukul hubungan keamanan AS di tiga negara berbeda, yakni Bahrain, Azerbaijan, dan Indonesia. Dalam laporan yang dikirim Rabu (15/4/2026), para diplomat AS menggambarkan situasi yang mengkhawatirkan, di mana AS menghadapi tekanan opini publik yang meluas.

Para diplomat menilai aktor-aktor pro-Iran sangat aktif memanfaatkan ruang digital. Mereka menggunakan berbagai cara untuk membentuk opini, mulai dari propaganda hingga strategi komunikasi yang dinilai lebih gesit dibandingkan Washington.

Di Azerbaijan, hubungan yang sebelumnya membaik kini disebut "mandek" dan bahkan berpotensi melemah. Sementara di Bahrain, pemerintah menghadapi pertanyaan publik terkait komitmen AS dalam melindungi sekutunya dari serangan Iran.

Namun, perhatian terbesar tertuju pada Indonesia. Dalam kabel diplomatik dari Kedutaan Besar AS di Jakarta, diplomat memperingatkan bahwa sentimen anti-Amerika berpotensi meningkat dan bisa berdampak langsung pada hubungan bilateral.

Kabel tersebut menyebutkan bahwa kedutaan membutuhkan ruang lebih luas untuk merespons narasi negatif, dengan "memiliki kebebasan untuk menggunakan media sosial yang fleksibel, cepat, dan proaktif guna menjawab tantangan dalam memberikan dampak di ruang digital yang padat," tulis pesan rahasia tersebut.

Namun, para diplomat AS mengaku ruang gerak mereka terbatas. Mereka disebut dilarang membuat konten asli terkait perang Iran dan hanya diperbolehkan membagikan ulang pesan resmi dari Gedung Putih atau Departemen Luar Negeri.

Situasi ini bahkan membuat sebagian diplomat enggan bersuara. "Para perwakilan sangat berhati-hati dalam memilih topik dan bagaimana mereka menyampaikan sesuatu," ujar salah satu diplomat yang meminta anonimitas.

Sebaliknya, Iran justru dinilai agresif memanfaatkan berbagai platform digital. Mereka menggunakan bot, meme, hingga jaringan sosial untuk menyebarkan pesan yang mampu melemahkan citra AS. Bahkan, diplomat Iran aktif membangun simpati melalui jaringan keagamaan, budaya, dan sosial.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott membela kebijakan Washington.

"Tindakan Presiden Trump membuat Amerika Serikat, generasi mendatang, dan seluruh dunia lebih aman dengan mencegah rezim Iran memperoleh senjata nuklir. Itulah kenyataannya, dan seluruh pemerintahan sejalan dalam upaya tersebut," katanya.

Di Indonesia, Iran disebut menjalankan operasi pengaruh yang signifikan. Melalui media tradisional dan platform seperti Telegram serta Facebook, Teheran mengangkat isu solidaritas Muslim dan sentimen antikolonial, dengan menggambarkan AS dan Israel sebagai kekuatan imperialis.

Menurut diplomat AS, kampanye ini efektif. Konten dari Kedutaan Besar Iran disebut kini menghasilkan lebih banyak interaksi dibanding sebelumnya, termasuk ribuan tayangan dan komentar positif.

Kabel diplomatik tersebut memperingatkan bahwa jika konflik berlanjut, tekanan publik bisa membatasi ruang gerak Presiden Prabowo Subianto dalam menjaga kerja sama keamanan dengan AS.

"Risiko jangka pendek paling berbahaya bukanlah bahwa pesan Iran akan sepenuhnya dipercaya, tetapi bahwa pesan tersebut akan memperkuat sentimen anti-Amerika yang sudah ada hingga membatasi ruang politik Presiden Prabowo untuk terus bergerak dalam kerja sama keamanan regional," tulis kabel tersebut.

Sementara itu, Indonesia sebelumnya telah mengambil sejumlah langkah untuk mempererat hubungan dengan Washington, termasuk menawarkan kontribusi dalam keamanan Gaza dan menjalin kerja sama pertahanan.

Namun, tulis Politico, tekanan politik domestik berpotensi mengubah arah tersebut. Bahkan, duta besar Iran disebut telah menyerukan agar Indonesia keluar dari Board of Peace yang digagas AS.

Meski belum ada indikasi pemerintah akan mengambil langkah sejauh itu, pembicaraan terkait kerja sama tersebut dilaporkan sempat ditunda.

Di tengah situasi ini, Kedutaan Besar AS di Jakarta meminta dukungan tambahan untuk memperkuat diplomasi publik. "Perwakilan menyambut baik inisiatif tambahan diplomasi publik yang mempromosikan kebijakan AS di Timur Tengah dan melawan pesan anti-Amerika untuk menjangkau audiens mayoritas Muslim dalam situasi saat ini," demikian isi kabel tersebut.

Bahrain dan Azerbaijan

Di Bahrain, sekutu dekat AS di Timur Tengah, persepsi publik juga mulai berubah. Kabel dari Manama menyebut muncul anggapan bahwa Washington lebih fokus melindungi Israel ketimbang sekutunya di Teluk.

Narasi pro-Iran bahkan menyebut kehadiran militer AS justru membahayakan negara tersebut. Salah satu unggahan yang viral berbunyi: "Mengapa pasukan AS ditempatkan di hotel-hotel di antara warga sipil? Apakah Amerika, yang telah meninggalkan kawasan Teluk demi keamanan Israel dan tujuan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, pantas membuat rakyat Bahrain berada dalam risiko?"

Para diplomat menilai lemahnya komunikasi AS menjadi salah satu penyebab. Mereka memperingatkan bahwa tanpa narasi tandingan yang kuat, propaganda Iran bisa menggerus kepercayaan publik terhadap komitmen AS.

Di Azerbaijan, perubahan sentimen juga terlihat. Setelah sebelumnya hubungan membaik pasca pertemuan damai antara Azerbaijan dan Armenia, media lokal kini mulai lebih kritis terhadap AS.

"Sebagian besar media lokal menyalahkan Amerika Serikat dan Israel karena memulai konflik dan karena diduga tidak memiliki strategi atau tujuan yang jelas untuk mengakhirinya," tulis kabel tersebut.

Meski demikian, sentimen anti-AS di Azerbaijan belum sepenuhnya beralih menjadi dukungan terhadap Iran. Publik di negara tersebut disebut tetap skeptis terhadap Teheran.

(luc/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |