Perak Masuk ke "Lubang Derita", Harga Ambruk 4% Lebih

3 hours ago 3

Review Sepekan

Chandra Dwi Pranata,  CNBC Indonesia

21 June 2026 07:20

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga perak terpantau merana sepanjang pekan ini, terbebani oleh sinyal hawkish dari bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed).

Merujuk Refinitiv, harga perak di perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (19/6/2026) ditutup di posisi US$64,9 per troy ons, ambruk 1,39% dari perdagangan sehari sebelumnya. Sepanjang pekan ini, harga perak anjlok 4,52% secara point-to-point (ptp).

Pergerakan harga perak cenderung mengikuti emas yang juga merana, terbebani oleh sinyal hawkish dari The Fed. Selain itu, gagalnya kembali kesepakatan damai AS-Iran turut mempengaruhi pergerakan perak

"Ketegasan ketua baru The Fed secara efektif menghapus dukungan dari faktor geopolitik, mengingatkan pasar bahwa kebijakan moneter tetap menjadi penentu utama arah harga," kata Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, dikutip dari Reuters, Minggu (21/6/2026).

Sebanyak sembilan dari 19 pejabat bank sentral AS memperkirakan suku bunga acuan masih perlu dinaikkan tahun ini.

Pandangan tersebut sejalan dengan sejumlah bank sentral global yang telah menaikkan atau memberi sinyal kenaikan suku bunga guna meredam tekanan inflasi yang dipicu perang Iran.

Menurut CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini melihat peluang 87% kenaikan suku bunga AS pada Desember, naik dari 61% sebelum keputusan terbaru The Fed.

Dari sisi geopolitik, rencana perundingan AS-Iran di Swiss dibatalkan setelah Wakil Presiden AS JD Vance membatalkan kunjungannya ke negara tersebut, menambah ketidakpastian terkait keberlangsungan gencatan senjata.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(chd/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |