Jakarta, CNBC Indonesia - Organisasi Maritim Internasional (IMO) di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) resmi memulai operasi besar-besaran untuk mengevakuasi lebih dari 11.000 pelaut. Para pelaut tersebut sempat terdampar di Selat Hormuz akibat konflik bersenjata yang membekukan jalur maritim global tersebut.
Mengutip laporan Al Jazeera, Rabu (24/6/2026), langkah darurat ini diambil menyusul penandatanganan nota kesepahaman antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kesepakatan awal tersebut dirancang demi mengakhiri perang berkepanjangan yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.
Operasi pemulihan ini membutuhkan kerja sama erat dari berbagai otoritas keamanan di wilayah Teluk. Langkah ini dilakukan demi menjamin keselamatan awak kapal yang telah terjebak selama berbulan-bulan.
"Operasi ini dilakukan dalam kerja sama erat dengan Iran, Oman, semua negara pesisir lainnya di kawasan tersebut, Amerika Serikat, dan industri maritim," ujar Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, dalam pernyataan resminya.
Pihak IMO memastikan bahwa seluruh jalur pelayaran telah diperiksa secara berkala sebelum kapal gelombang pertama dilepas. Peninjauan ketat ini krusial mengingat adanya sisa-sisa risiko keamanan pascaperang.
"Kami telah mengamankan jaminan keselamatan yang diperlukan dan telah memverifikasi secara menyeluruh kondisi navigasi yang aman untuk mendukung operasi ini," tambah Dominguez.
Sejak perang meletus pada akhir Februari lalu, Iran memberlakukan blokade ketat di kawasan selat tersebut. Kebijakan pertahanan Teheran ini membuat ratusan kapal komersial terjebak tanpa kepastian di sepanjang perairan.
Namun, arus lalu lintas kapal dilaporkan mulai merangkak naik sejak draf perdamaian disepakati pekan lalu. Lembaga intelijen pengapalan Kpler mencatat setidaknya ada 36 kapal komersial yang berhasil melintasi selat tersebut pada hari Senin.
Kementerian Pertahanan Oman menyatakan bahwa proses evakuasi di bawah cetak biru IMO ini akan dilakukan secara bertahap. Strategi ini sangat penting untuk menghindari kecelakaan fatal di laut.
"Mengenai tingginya risiko tabrakan dalam situasi saat ini, evakuasi lalu lintas kapal secara bertahap dan terkendali sangat diperlukan," tegas pihak Kementerian Pertahanan Oman.
Di sisi lain, dukungan internasional untuk mengamankan perdagangan dunia mulai berdatangan dari Eropa. Denmark mengumumkan bergabung dengan misi maritim internasional bentukan Prancis dan Inggris demi membuka kembali jalur energi vital tersebut.
Al Jazeera melaporkan langsung dari Selat Hormuz bahwa dinamika perundingan damai menunjukkan tren positif. Hal ini memberikan sinyal baik bagi pemulihan ekonomi global.
Meski demikian, pemulihan total rute dagang ini diperkirakan masih membutuhkan waktu yang cukup lama. Hingga saat ini, ratusan kapal logistik berukuran besar masih terlihat mengantre di kedua sisi selat.
Sementara itu, ketegangan diplomatik baru mengenai hak kelola selat mulai membayangi draf perjanjian final. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, tiba di Uni Emirat Arab untuk menegaskan posisi Washington.
AS menolak keras wacana penarikan biaya retribusi oleh sepihak pihak di jalur internasional tersebut. Rubio mengklaim draf aturan ini didukung oleh sekutu-sekutu Arab di kawasan Teluk.
"Ini adalah jalur air internasional. Tidak ada negara yang diizinkan memungut tol atau biaya di jalur air internasional. Saya yakin semua negara di kawasan ini akan setuju," cetus Rubio.
Di kubu berseberangan, posisi keras ditunjukkan oleh perwakilan parlemen sekaligus negosiator ulung Teheran. Iran menegaskan peta kendali keamanan di Selat Hormuz telah berubah total akibat perang.
"Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke status quo sebelum perang," tegas negosiator top Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf.
(tps/luc)
Addsource on Google































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4780552/original/013117000_1711071915-20240321BL_Kualifikasi_Piala_Dunia_2026_Timnas_Indonesia_Vs_Vietnam_Stok_49.JPG)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518107/original/009843500_1772463822-Persebaya_vs_Persib_Bandung.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522153/original/020711000_1772719961-Belum_waktunya_menyerah__penggawa______________DUBFC__BantenWarriors__BuiltForGlory__1_.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5496722/original/026716900_1770597145-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5249375/original/065795600_1749635323-viet_3.jpg)







:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5519387/original/022712600_1772553400-20260303IQ_Persija_Jakarta_vs_Borneo_Fc-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510995/original/076493500_1771851607-malut_vs_persija.jpeg)