Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
19 April 2026 06:40
Jakarta, CNBC Indonesia — Konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026 telah memicu salah satu guncangan pasokan energi terbesar dalam sejarah modern.
Pusat dari krisis geopolitik ini adalah Selat Hormuz, jalur air strategis yang memfasilitasi sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Penutupan dan pembukaan yang silih berganti atas selat ini tidak hanya menciptakan volatilitas ekstrim pada harga minyak mentah global, tetapi juga memberikan tekanan inflasi yang signifikan terhadap perekonomian negara-negara konsumen, termasuk Amerika Serikat.
Krisis ini memperlihatkan bagaimana keputusan militer dan respons kebijakan dapat secara langsung mendisrupsi stabilitas pasar modal dan komoditas di seluruh dunia.
Eskalasi bermula dari operasi militer yang memicu penutupan efektif jalur pelayaran komersial. Dampak rambatannya langsung terasa pada pergerakan indeks saham global seperti Dow Jones dan S&P 500, serta lonjakan harga minyak jenis Brent dan WTI.
Artikel ini menguraikan secara komprehensif rangkaian peristiwa, respons kebijakan, dinamika pasar, hingga diplomasi yang mewarnai krisis Selat Hormuz dari akhir Februari hingga pertengahan April 2026.
Awal Mula Operasi Militer dan Disrupsi Pasokan
Ketegangan bermula secara mendadak pada 28 Februari 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan ke Iran melalui Operasi Epic Fury. Keputusan ini diambil oleh pemerintahan Presiden Donald Trump dengan tujuan yang dinyatakan untuk mengeliminasi ancaman nuklir Iran.
Operasi militer ini langsung memicu respons dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, yang berujung pada peringatan terhadap kapal-kapal komersial dan penutupan efektif Selat Hormuz.
Jalur vital yang biasanya dilewati oleh jutaan barel minyak per hari ini mengalami kelumpuhan lalu lintas maritim, menciptakan defisit pasokan global yang diestimasikan mencapai 10 hingga 14 juta barel per hari.
Penutupan selat ini memberikan kejutan bagi pasar energi. Harga minyak dunia, yang sebelumnya diproyeksikan berada di kisaran moderat, langsung melonjak tajam mendekati level US$100 per barel pada awal Maret.
Perusahaan-perusahaan energi global merespons dengan menghentikan operasional di kawasan Teluk, sementara negara-negara konsumen mulai menghadapi lonjakan harga bahan bakar.
Di Amerika Serikat, harga rata-rata bensin nasional meningkat secara drastis menembus level US$4 per galon, level tertinggi sejak tahun 2022, yang kemudian memicu kekhawatiran mengenai daya beli konsumen dan potensi perlambatan ekonomi.
Foto: REUTERS/Jonathan Ernst
FILE PHOTO: U.S. President Donald Trump speaks as Secretary of State Marco Rubio and Secretary of Defense Pete Hegseth look on during a press conference following a U.S. strike on Venezuela where President Nicolas Maduro and his wife, Cilia Flores, were captured, from Trump's Mar-a-Lago club in Palm Beach, Florida, U.S., January 3, 2026. REUTERS/Jonathan Ernst/File Photo
Respons Kebijakan dan Fluktuasi Pasar Modal
Menghadapi tekanan ekonomi dan volatilitas pasar, pemerintahan AS mengeluarkan serangkaian kebijakan yang sering kali menciptakan pergerakan harga yang bergejolak di bursa saham dan komoditas.
Pada awalnya, pejabat AS meyakinkan pasar bahwa Amerika Serikat memiliki ketahanan energi melalui produksi domestik. Namun, seiring berjalannya waktu dan meningkatnya harga minyak, AS mulai menerapkan langkah-langkah mitigasi darurat.
Kebijakan tersebut mencakup penerbitan pengecualian sanksi sementara bagi negara-negara seperti India untuk membeli minyak Rusia, hingga langkah kontroversial mencabut sanksi terhadap minyak Iran yang disimpan di laut untuk mencegah harga minyak menembus US$150 per barel.
Dinamika komunikasi dari Washington sering kali memicu volatilitas harian di Wall Street. Pernyataan optimis mengenai keberhasilan operasi militer atau potensi pengawalan angkatan laut AS kerap mendorong reli singkat di pasar saham dan menekan harga minyak.
Sebaliknya, ancaman eskalasi, tenggat waktu penyerangan infrastruktur energi Iran, atau laporan mengenai serangan terhadap kapal tanker, langsung memicu aksi jual pada indeks Dow Jones dan Nasdaq, serta mengembalikan risk premium yang tinggi pada harga minyak mentah Brent.
Upaya Diplomasi yang Berujung Kebuntuan
Tekanan yang semakin berat terhadap perekonomian global, yang tercermin dari lonjakan data inflasi AS pada bulan Maret, memaksa pihak-pihak yang bertikai untuk mempertimbangkan jalur diplomasi.
Pada awal April, sebuah kesepakatan gencatan senjata sementara diumumkan, yang memberikan ruang bernapas bagi pasar. Indeks saham AS mencatatkan pemulihan signifikan dengan harapan bahwa lalu lintas di Selat Hormuz dapat kembali normal.
Amerika Serikat kemudian mengirimkan delegasi tingkat tinggi yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance ke Islamabad, Pakistan, untuk melakukan perundingan langsung dengan perwakilan Iran.
Namun, optimisme pasar terbukti prematur. Perundingan di Islamabad gagal mencapai kesepakatan damai yang komprehensif. Iran menuntut kompensasi dan pengakuan atas kendali teritorial di Selat Hormuz, termasuk hak untuk memungut bea masuk dari kapal komersial yang melintas.
Di sisi lain, AS menolak tuntutan tersebut dan bersikeras pada penghentian total program nuklir Iran. Kebuntuan diplomasi ini dengan cepat menghapus harapan penyelesaian konflik jangka pendek, mengembalikan ketidakpastian ke pasar energi global.
Tarik Ulur Status Selat Hormuz dan Kondisi Terkini
Pasca-kegagalan perundingan, krisis memasuki fase tarik ulur yang penuh kebingungan terkait status operasional Selat Hormuz. Amerika Serikat mengumumkan rencana untuk menerapkan blokade angkatan laut secara imparsial terhadap kapal-kapal yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran.
Langkah ini disebut oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) sebagai upaya mencegah Iran memungut tarif ilegal. Iran merespons dengan keras, melabeli tindakan AS sebagai pembajakan maritim dan mengancam keamanan seluruh pelabuhan di kawasan Teluk dan Laut Arab jika pelabuhan mereka diganggu.
Klaim-klaim mengenai status selat terus berubah dalam hitungan hari. Presiden Trump sempat menyatakan bahwa ia telah membuka selat tersebut secara permanen untuk kepentingan rantai pasok global dan China, menyusul kesepakatan agar Beijing tidak mengirimkan senjata ke Teheran.
Sejalan dengan gencatan senjata di front lain, Iran kemudian secara sepihak mengumumkan pembukaan penuh Selat Hormuz untuk kapal komersial pada tanggal 17 April, yang langsung memicu penurunan tajam harga minyak hingga 11% dan mendorong reli bursa saham.
Namun, hanya dalam waktu kurang dari 24 jam, pada tanggal 18 April 2026, militer Iran kembali menyatakan penutupan selat dan mengembalikan kendali ketat merespons blokade angkatan laut AS yang dinilai belum dicabut.
Situasi ini menegaskan bahwa krisis geopolitik di kawasan Teluk masih jauh dari titik temu, dengan risiko disrupsi energi yang terus membayangi perekonomian global.
Berikut adalah tabel kronologi yang sudah dirangkum dan fokus secara khusus pada titik-titik balik paling krusial. Peristiwa yang dimasukkan adalah momen-momen yang memberikan dampak fundamental terhadap pergerakan pasar energi, indeks saham global, dan perubahan kebijakan strategis.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429811/original/069766600_1764645013-000_32U79NY.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4788743/original/051969200_1711719823-0_063_1953517615_-_Copy.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427463/original/032259100_1764389259-Tomas_Trucha_2.jpg)