Ini Dia Tantangan Berat Program Swasembada Gula Konsumsi 2027

5 hours ago 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) sekaligus Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Sudaryono membeberkan tantangan di balik program bongkar ratoon yang digencarkan pemerintah demi mendongkrak produktivitas tebu. Salah satu kendala utamanya justru terletak pada proses mencari petani dan lahan yang bersedia ikut program tersebut.

Sudaryono menegaskan, Kementerian Pertanian tidak bekerja sendiri dalam menjalankan program ini. Berbagai pihak dilibatkan sebagai perpanjangan tangan pemerintah di lapangan.

"HKTI bukan satu-satunya tentunya, Kementerian Pertanian punya mata dan telinga, dan kepanjangan tangan kan banyak ya, ada Dinas Pertanian di masing-masing kawasan dan kota, kemudian ada Penyuluh Pertanian yang saat ini menjadi domain dari Kementerian Pertanian, termasuk HKTI ingin kita berperan di situ," ujar Sudaryono dalam konferensi pers di Auditorium Kementan, Jakarta, Senin (27/4/2026).

Ia menjelaskan, inti dari program bongkar ratoon adalah mencari petani dan lahan tebu yang siap diremajakan. Namun dalam praktiknya, hal ini tidak selalu mudah.

"Jadi kan gini, intinya bongkar ratoon itu kan kita nyari petani, sama sawah atau lokasi yang mau dibongkar. Kadang-kadang nyari itu juga gak mudah, jadi kita ingin semua pihak, bahkan Kementerian Pertanian, saya bicara sebagai Wakil Menteri, itu kita melibatkan Babinsa, Babinkamtibmas untuk mencari calon-calon penerima bantuannya," jelasnya.

Adapun mengenai penyebab kesulitan, Sudaryono mengungkapkan faktor psikologis petani menjadi salah satu kendala utama. Banyak petani enggan membongkar tanaman tebu yang sudah tumbuh.

"Ya gini, sulit itu karena misalnya nih ya, petaninya sudah punya tebu, dia sayang kalau dibongkar, itu kan artinya diganti. Sementara dia kalau sudah tinggi kan dia ingin (tinggal dipanen), jadi ini masalah-masalah teknis saja sebetulnya," papar dia.

Selain itu, persoalan penyebaran informasi juga menjadi hambatan. Meski pemerintah telah memanfaatkan berbagai kanal komunikasi, informasi program bongkar ratoon disebutnya belum sepenuhnya menjangkau petani di lapangan.

"Selain itu juga kadang-kadang informasi, kita sudah pakai sosmed lah, pakai semua berita kita salurkan kemana-mana, kadang-kadang, mohon maaf, kenyataannya itu ternyata gak juga kemudian sampai kemana-mana," kata Sudaryono.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono saat konferensi pers di Auditorium Kementan, Jakarta, Senin (27/4/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizki)Foto: Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono saat konferensi pers di Auditorium Kementan, Jakarta, Senin (27/4/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizki)

Karena itu, pemerintah kini memperkuat jaringan komunikasi berbasis lapangan, termasuk melalui penyuluh dan organisasi petani seperti HKTI.

"Nah ini informasi yang bukan hanya mengandalkan sosmed dan berita resmi seperti Anda, itu TV dan berita resmi, tapi juga menggunakan informasi melalui jaringan-jaringan, jaringan penyuluh, jaringan dinas, termasuk HKTI kita ingin melibatkan di situ," tegasnya.

Sudaryono menekankan, HKTI hadir sebagai mitra strategis pemerintah, bukan pengganti peran negara.

"HKTI tidak menggantikan pemerintah, tapi HKTI sekarang berada di tengah-tengah pemerintah, menjadi mitra strategis pemerintah, untuk kita sama-sama menjadi mata, telinga, corong, dan tangan, kepanjangan tangan pemerintah," ucap dia.

Ia juga menegaskan, Kementan membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk HKTI, untuk membantu mencari calon petani dan lokasi program.

"Kementerian Pertanian (Kementan) mau membantu bongkar ratoon petani tebu. Itu nyari calon petani, calon lokasi, itu kemudian juga mengalami kesulitan. Maka HKTI harus siap bantu," tegasnya.

Sebagai informasi, program bongkar ratoon menjadi bagian penting dari strategi pemerintah dalam mengejar target swasembada gula konsumsi paling lambat 2027.

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman sebelumnya mengungkapkan, kebutuhan gula nasional saat ini mencapai 6,7 juta ton, sementara produksi gula kristal putih baru sekitar 2,67 juta ton. Artinya, masih terdapat kekurangan sekitar 4,03 juta ton.

Ia menyebut, salah satu persoalan utama di sektor pergulaan adalah dominasi tanaman tebu ratoon yang sudah tua dan tidak produktif.

"Sebenarnya ini baru 2025 Bapak Presiden minta tingkatkan produktivitas. Masalah utama di pergulaan adalah ratoon-nya. Itu 80% ratoon 10 atau 7, artinya umurnya 7 tahun, 10 bahkan 20 tahun tapi kembali lagi ratoon 4," ujar Amran beberapa waktu lalu.

Bahkan, hasil pengecekan menunjukkan 70%-80% tanaman tebu sudah tidak layak.

"Kami setelah mengecek 70%-80% itu rusak, jadi tidak layak," katanya.

Untuk itu, pemerintah menargetkan peremajaan tanaman melalui program bongkar ratoon seluas 100 ribu hektare per tahun dengan total anggaran Rp1,7 triliun per tahun selama tiga tahun.

"Kalau ini sudah dibongkar, sudah pasti kenaikan produksi itu insya Allah pasti. Itu 80% kita perbaiki, tebu rakyat," ujar Amran.

Pemerintah pun optimistis, dengan konsistensi program tersebut, target swasembada gula konsumsi dapat tercapai paling lambat pada 2027.

(wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |