Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa perlengkapan olahraga Nike tengah menghadapi penyelidikan otoritas Amerika Serikat (AS). Penyelidikan ini terkait dugaan diskriminasi terhadap pekerja dan pelamar kerja kulit putih melalui kebijakan keberagaman perusahaan.
Equal Employment Opportunity Commission (EEOC), badan yang mengurusi pekerja, mengungkapkan dalam pengajuan ke pengadilan federal pada Rabu (4/2/2026) bahwa mereka sedang menyelidiki Nike atas dugaan pelanggaran hukum antidiskriminasi di tempat kerja.
EEOC menyebut Nike menolak mematuhi panggilan pengadilan yang meminta data luas, termasuk komposisi ras dan etnis tenaga kerja perusahaan serta daftar karyawan yang dipilih untuk program bimbingan dan pengembangan.
"Komisi sedang menyelidiki apakah Nike dengan sengaja mendiskriminasi karyawan dan pelamar kerja kulit putih, termasuk dengan menargetkan mereka secara tidak proporsional untuk pemutusan hubungan kerja," tulis EEOC dalam dokumen pengadilan tersebut, seperti dikutip Reuters, Kamis (5/2/2026).
Menurut lembaga itu, data yang diminta diperlukan untuk menentukan apakah Nike melanggar undang-undang federal yang melarang diskriminasi berdasarkan ras dan karakteristik yang dilindungi lainnya.
Menanggapi hal tersebut, juru bicara Nike menyebut langkah hukum EEOC sebagai eskalasi yang tidak biasa. Ia menegaskan perusahaan telah bersikap kooperatif selama proses penyelidikan.
"Ini merupakan peningkatan yang mengejutkan dan tidak biasa. Kami telah bekerja sama dengan penyelidikan EEOC dan memberikan ribuan halaman dokumen," ujar juru bicara Nike.
"Kami berkomitmen pada praktik ketenagakerjaan yang adil dan sah serta mematuhi seluruh hukum yang berlaku, termasuk yang melarang diskriminasi. Kami percaya program dan praktik kami konsisten dengan kewajiban tersebut dan kami menanggapi masalah ini dengan serius."
Penyelidikan terhadap Nike muncul di tengah langkah agresif pemerintahan Presiden AS Donald Trump untuk menekan kebijakan Diversity, Equity, and Inclusion (DEI) di sektor publik maupun swasta. Kritikus DEI menilai kebijakan tersebut berpotensi menggeser prinsip meritokrasi dan memicu diskriminasi terbalik, khususnya terhadap laki-laki kulit putih.
Ketua EEOC Andrea Lucas menyatakan banyak program keberagaman di tempat kerja berpotensi melanggar hukum. Ia menegaskan lembaganya tidak akan ragu mengambil langkah penegakan hukum.
Penyelidikan terhadap Nike ini berasal dari apa yang disebut sebagai "dakwaan komisioner", mekanisme yang relatif jarang digunakan dan diprakarsai langsung oleh Lucas pada Mei 2024. Berbeda dari kebanyakan kasus EEOC yang dipicu oleh pengaduan pekerja, dakwaan ini dimulai atas inisiatif internal komisi.
Sebelumnya, EEOC juga mengambil langkah serupa terhadap sejumlah perusahaan besar. Pada November lalu, lembaga tersebut menuduh Northwestern Mutual Life Insurance tidak mematuhi panggilan pengadilan terkait dugaan diskriminasi terhadap laki-laki kulit putih, meski perusahaan itu membantah tuduhan tersebut.
Selain itu, organisasi konservatif America First Legal, yang didirikan oleh mantan ajudan utama Trump, Stephen Miller, diketahui telah mengajukan pengaduan terhadap sejumlah korporasi besar, termasuk Nike, terkait kebijakan DEI sejak pemerintahan Presiden Joe Biden.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392922/original/058076400_1761535740-ATK_Bolanet_BRI_Super_League_2025_26_Persib_vs_Persis_Solo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5395563/original/063153100_1761711808-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH__2_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376586/original/086524400_1760009433-WhatsApp_Image_2025-10-09_at_15.16.27.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5338912/original/039061000_1756988370-2N3A9178.JPG)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5379723/original/026526700_1760356768-1000294045.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5383180/original/082158500_1760632502-Azrul_Ananda___Robertino_Pugliara__dok_Persebaya_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5317021/original/038490300_1755266531-SaveClip.App_533385198_17850905229531514_3419499828321647333_n.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378193/original/050455500_1760219906-TIMNAS_INDONESIA.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5347461/original/084430700_1757672387-547847842_18531923638014746_4748068569041253567_n.jpg)